Ads 468x60px

Selasa, 13 September 2011

Renren, Facebook ala Tiongkok

Kamu pasti tidak percaya kalau masih ada milyaran orang di dunia ini yang tidak punya akun facebook bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Tapi mereka ada! Tepatnya sekitar semilyar lebih penduduk Tiongkok. Dengan tujuan pertahanan negara dan memaksimalkan penggunaan produk lokal, pemerintah Tiongkok memasang firewall yang cukup ketat yang tidak mengijinkan Facebook atau jejaring sosial lainnya masuk ke negara mereka. Kecuali beberapa konglomerat dan hacker terkenal tentunya.

Lalu bagaimana mereka berkomunikasi dan membangun hubungan persahabatan? Sebagaimana telah kita ketahui bersama, Tiongkok punya versi sendiri untuk segala macam item yang laris di dunia, termasuk facebook. Ya! Mereka memiliki 2 jejaring sosial lokal yang sangat populer karya anak bangsa mereka sendiri; Renren, yang menyasar segmen remaja, pelajar dan mahasiswa dan Kaixin001, khusus untuk para eksekutif muda. Renren lahir terlebih dulu pada 2005, disusul Kaixin001 pada 2008. Nah, yang paling mirip Facebook baik dari desain, warna, struktur halaman hingga fasilitasnya adalah Renren, karenanya Renren sering dijuluki facebooknya masyarakat Tiongkok.

Saat ini Renren mengklaim memiliki 165 juta pengguna aktif. Sama seperti facebook, pengguna Renren juga bisa update status, like, share video/ foto, berkomentar dan add new friend. Uniknya mereka lebih agresif dan aktif berkomunikasi dibandingkan pengguna facebook! Jumlah status, komentar dan foto yang mereka buat dalam sehari mencapai 2 kali lipat dari jumlah rata-rata yang dibuat facebooker Indonesia yang terhitung cukup eksis di dunia maya. Di Renren, mereka juga bisa bermain berbagai game online dan melakukan transaksi bisnis online.

Renren, si Facebook ala Tiongkok ini dipelopori oleh Wang Xing, mahasiswa drop out (DO) dari program PhD Delaware University, Amerika. Dia menyebutnya Xiaonei, yang artinya kampus. Bisnis ini didirikan bersama 2 orang temannya dengan modal 300 ribu renminbi atau sekitar 400 juta rupiah pada 2005. Dalam beberapa hari saja anggotanya sudah ribuan dan dalam beberapa bulan sudah menembus ratusan ribu. Wow, fantastis ya! Sayang, setahun kemudian, Wang Xing menjual Xiaonei kepada Oak Pacific Interactive dengan nilai 4 juta dollar atau sekitar 35 milyar rupiah. Mungkin Wangxing berpikir saat itu, nilai yang ditawarkan tersebut sudah cukup besar karena dalam setahun dia bisa menggandakan modalnya hingga 100 kali lipat. Tapi, bila dibandingkan harga Xiaonei sekarang, pasti Wang Xing menyesal menjualnya.

Itulah seputar Renren, Facebook ala Tiongkok. Dengan konsep ATM (amati, tiru, modifikasi) produk barat, mereka bisa sukses memiliki jejaring sosial lokal yang cukup sukses. Mereka tetap bebas berekspresi, bergaul dan menikmati perkembangan jaman tanpa harus terseret gaya barat, terlepas dengan banyaknya pelanggaran hak cipta yang terjadi disana. Bagaimana dengan kita di Indonesia? Facebook-facebook lokal ala Indonesia banyak yang mencoba eksis tapi sudah layu sebelum berkembang. Salut untuk Tiongkok!

4 komentar:

tari mengatakan...

ok lah.it nama ya
cinta produk
sendiriok lah.it nama ya
cinta produk
sendiri

bareta mengatakan...

hebat ! coba indonesia mencontoh tiongkok atau bikin social jejaring sendiri pasti lebih menarik jangan bisanya jadi user ...ya kalo dapat duit bisa investasi kedalam negeri...mungkin.....

Ivan Sujatmoko mengatakan...

china itu apa-apa koq di buat imitasi ya... hem...

ANNAMANIAC mengatakan...

Ivan, ATM aja = Amati, Tiru, Modifikasi...
Ya Bareta, Indonesia harus mencontoh Tiongkok, cinta produk dlm negeri, jgn cuma jd korban konsumerisme...
Tari, iya benar! patut diteladani

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...