Ads 468x60px

Senin, 06 Agustus 2012

Busway/ Transjakarta, Nasibmu Kini...

Ayo ngaku siapa yang belum tahu Transjakarta? Atau siapa yang sudah tahu tapi belum pernah naik Transjakarta? Kalau begitu jangan mengaku orang Jakarta deh kalau tidak tahu atau belum pernah naik Transjakarta atau istilah umumnya Busway. TJ atau Busway adalah bis angkutan umum dengan pendingin udara yang beroperasi di jalur khusus. Di dunia, bis semacam ini dikenal dengan istilah Bus Rapid Transit (BRT). Kota pertama yang menerapkannya adalah Coritiba, Brazil tapi BRT terbaik yang terintegrasi dengan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) ada di Bogota, Kolombia. Di Bogota BRT-nya diberi nama Trans Milenio (TM).

Transjakarta (TJ) sendiri merupakan hasil Bang Yos mencontek konsep TM yang sukses. Kala itu Bang Yos sudah cukup mumet karena tiap hari otaknya dipenuhi dengan bayangan semakin memburuknya kepadatan lalu lintas di ibukota ini dari hari ke hari. Sayangnya, Konsep TM yang nyaris sempurna itu hanya dijiplak 20% saja, sisanya dikelola suka-suka tidak profesional.

15 Januari 8 tahun lalu, koridor I untuk TJ Kota-Blok M diresmikan yang kemudian diikuti koridor lainnya. Hingga kini sudah ada 11 koridor, tapi bus yang beroperasi tidak sampai 500 bus dan 10% bus cadangan dengan rata-rata 320.000 penumpang/ hari. Bandingkan dengan di Guangzhou Tiongkok yang punya 2 koridor dengan 1000 bus dan mengangkut lebih dari 1 juta orang/ hari. Padahal, bila rencana TJ beroperasi di 15 koridor, maka akan jadi sistem BRT terluas dan terpanjang di seluruh dunia. Wow! Tapi, ada tapinya... Sistem TJ merupakan salah satu sistem BRT terburuk di dunia. Hadeuh! Kenapa?

Terlalu banyak persoalan dalam sistem operasionalnya, sehingga berdampak kerugian bagi publik. Namun hal ini tak kunjung diselesaikan pemerintah propinsi DKI Jakarta. Apa saja sih kendalanya, sampai-sampai Bang Kumis yang mengaku ahlinya tersebut tidak dapat menyelesaikan? Silakan disimak:

1. Sobat semua tahu khan kalau bus-bus TJ ini menggunakan BBG. Sayangnya, stasiun pengisian BBG (SPBG) di Jakarta masih sangat terbatas sehingga proses pengisiannya membutuhkan waktu lama, sekitar 2-3 jam/ bis. Saat ini hanya ada 5 SPBG di Jakarta, yaitu di Jl. Pemuda, Kampung Rambutan, Jl. Raya Pondok Gede (semua di Jaktim), Jl. Raya Pasar Minggu (Jaksel) dan Pesing (Jakbar). Padahal, berdasar Pergub. DKI Jakarta no. 141/ 2007 semua angkutan massal – termasuk TJ, pada 2012 harus sudah menggunakan BBG. Jadi, terbayang khan rumitnya pengisian gas yang jumlahnya masih terbatas di besarnya ibukota ini;
2. Tertundanya kenaikan harga tiket TJ yang berlarut-larut sejak 2007 membuat fasilitas dan pelayanan TJ terus memburuk. Harga yang ada saat ini adalah harga politis, padahal subsidi pemda juga tidak banyak! Maka jangan heran bila sering kita saksikan bus TJ mogok, terbakar, meledak tangki gasnya atau AC-nya tidak dingin. Belum lagi jembatan penyeberangan yang rusak, halte yang bocor dan kotor serta pelayanan ala kadarnya cenderung kasar;

3. Jalur khusus TJ (busway) jarang bisa steril. Mayoritas diserobot mulai motor, angkutan umum hingga kendaraan pribadi. Di beberapa koridor, separator sudah hilang dan rusak, marka jalannya pun sudah luntur. Usaha memasang portal pun hanya buang-buang anggaran tak jelas juntrungannya;
4. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta sesuai UU No.22/ 2009 tentang Lalu Lintas Jalan Raya tidak berwenang lagi untuk menilang pelanggar jalur TJ. Yang berhak hanya Polisi Lalu Lintas (Polantas). Padahal, dalam waktu-waktu tertentu yang macet dan padat, polantas membiarkan terjadinya pelanggaran;

5. Tak kunjung dibangunnya flyover/ underpass khusus TJ di perempatan/ pertigaan/ perputaran lalu lintas yang padat, seperti Bundaran HI, Harmoni, Cililitan dan sebagainya;
6. Penambahan bus hanya 100/ tahun anggaran, sesuai kemampuan Pemprov DKI Jakarta. Artinya dengan 11 koridor, tiap koridor hanya dapat 9 bus. Tidak sejalan dengan pertumbuhan penumpang. Walaupun beberapa bus baru adalah bus gandeng yang bisa memuat lebih banyak penumpang. Akhirnya overload capacity, penuh sesak. Terjadilah efek domino; pencopetan, pelecehan seksual dan lainnya;

7. Operasional TJ tidak dilengkapi sistem informasi teknologi yang mumpuni untuk memonitor perjalanan seluruh armada TJ. Akibatnya tak jarang jarak bis terlalu dekat atau bahkan terlalu jauh. Ini sangat terasa saat jam-jam puncak di pagi, siang dan sore hari;
8. Masih tumpang tindihnya TJ dengan moda transportasi lain sehingga sistem feeder belum optimal. Bahkan terkadang menggunakan moda lain lebih cepat dan lebih murah. Belum tersedia juga tempat parkir motor/ mobil (park and ride) kecuali di Kalideres dan Ragunan.

Bila semua dapat dicari solusinya maka TJ akan menjadi motor penggerak utama transportasi di Jakarta. TJ akan menjadi angkutan massal yang aman, nyaman dan diminati semua masyarakat. Dan bila demikian, kemacetan pun dapat direduksi sehingga kerugian-kerugian akibat macet pun dapat dieliminir. Itulah masalah-masalah krusial yang harus diselesaikan gubernur DKI Jakarta yang baru untuk 5 tahun ke depan. Sebuah PR besar!

1 komentar:

saryadi nilan mengatakan...

Belum pernah naik Bus way,hiks.love,peace and gaul.

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...