Ads 468x60px

Jumat, 02 Desember 2011

Kita Dibodohi Pusat-Pusat Perbelanjaan

Main. Siapa yang belum pernah mengunjungi Mal, Plaza, ITC, Supermarket dan Pusat-Pusat Perbelanjaan? Saya yakin takkan ada yang menjawab belum. Penduduk Indonesia terkenal konsumtif, bahkan untuk sekedar mencari dan membeli sejumput permen, sebongkah garam dapur dan setumpuk tisu kita akan sempatkan diri untuk masuk dan berbelanja di dalamnya. Tahukah anda, bahwa selama ini kita telah dibodohi oleh pusat-pusat perbelanjaan tersebut? Bahwa apa yang kita lakukan selama ini adalah sesuai keinginan para pemilik modal yang berinvestasi di dalamnya, dimanapun pusat-pusat perbelanjaan itu berada. Mau tahu buktinya? Anam akan paparkan di bawah ini, silakan sampaikan argumen sobat 3M mania sekalian baik setuju maupun tidak. Selamat menyimak. 


Mengarahkan Tujuan Kita 
Apakah anda menyadari jika mayoritas pusat perbelanjaan meletakkan pintu masuk di sebelah kanan. Dan, kita sebagai manusia secara alamiah akan bergerak serah jarum jam. Artinya, kita akan bergerak ke bagian kiri terlebih dulu. Nah, di sanalah mereka akan meletakkan toko yang menjual produk-produk berumur pendek, seperti donut, roti, kopi, es krim dan camilan lainnya. Yang jelas, produk-produk tersebut tidak ada dalam daftar belanja kita. Sekarang perhatikan eskalator yang ada di dalamnya. Sebagian dibuat selang-seling dan sebagian ada yang dimatikan sehingga kita mencari jalan lain untuk naik atau turun. Ini semata untuk membuat anda melewati semua toko yang ada disana. Benar kan? 


Interior dan Barang Berkilauan 
Coba ingat-ingat dan perhatikan interior pusat-pusat perbelanjaan, dibuat sesemarak, semenarik dan seunik mungkin. Semata untuk mengaktifkan otak kanan kita dan mengajak kita berkunjung ke dalamnya. Warna-warni dan bentuk-bentuk aneh ini juga mempengaruhi anak-anak yang notabene akan merengek pada orang tuanya. Kemudian tiap barang yang dijual di dalamnya, ditata dan disusun berdasarkan warna dari yang terang hingga redup. Agar terkesan mahal dan bermutu semua barang dipoles menjadi bersih, mengkilap dan bercahaya. Dan bila sudah demikian tegakah anda kalau orang yang paling kita cintai yang memohon dibelikan? 


Diskon, Promosi dan Undian Berhadiah 
Pada saat-saat spesial, seperti hari raya, liburan sekolah atau libur nasional, pusat-pusat perbelanjaan berbondong-bondong memberikan aneka diskon besar-besaran, promosi pembelian hingga undian berhadiah. Ini membuat pelanggan berjejal, berebut, borong hingga rela antri panjang untuk bayar belanjaannya. Tapi sadarkah anda bahwa sebenarnya barang-barang tersebut bukanlah kebutuhan utama, melainkan sekedar tertier dan pelengkap saja, bahkan pada akhirnya tidak terpakai. Kebutuhan satu terpaksa anda beli dua karena bonus satu atau hadiah lainnya. He7x... Semua karena dopamine, hormon yang dihasilkan otak saat kita melakukan hal-hal menarik yang kita inginkan. 


Harga Barang Aneh 
Otak kita sangat lama dalam memproses deretan angka yang dibuat rumit sehingga akhirnya sulit untuk menghitungnya dibanding dengan angka bulat biasa. Kita takkan bisa memutuskan dalam waktu cepat ingin membeli produk seharga Rp.3.850,- di toko A, dua produk seharga Rp.7.575,- di toko B atau empat produk gratis satu seharga Rp.18.590,-. Betul? Karena pada prinsipnya semua harga itu sama saja tapi kita dibuat sulit akhirnya malas menghitungnya dan salah memilih. Andai semua harga bulat pasti kita akan dapat berbelanja lebih cepat dan mudah untuk mendapat kembalian sesuai hak kita. So, masih mau beli kulkas diskon seharga Rp. 1.999.000,- bonus kompor gas tunggal atau yang seharga Rp.2.000.000,- tapi diantar sampai rumah? 


Bergantung pada Merk 
Tiap orang pasti loyal dengan merk pilihannya masing-masing. Kita pasti merasa nyaman minum air kemasan, makan ayam goreng dan mengenakan pakaian yang memiliki merk yang sudah terpatri di pikiran kita. Kita juga terkadang memilih merk tertentu untuk sekedar prestise dan gengsi. Ya kan? Akui saja! Ini semua dikarenakan bagian otak bernama prefrontal cortex yang merasakan rasa dan emosi selalu dikalahkan oleh bagian otak lain bernama ventral putamen yang berpikir, mengingat dan mengkategorikan. Ini karena bujuk rayu iklan atau promosi dari mulut ke mulut pasangan, saudara maupun sahabat kita. 


So, masih mau ditipu daya pusat perbelanjaan? Kalau saya sendiri lebih memilih menjadi pelanggan pandai yang membeli seperlunya sesuai kebutuhan di tempat terdekat, seperti warung, pasar tradisional atau maksimal mini market. Supaya tidak terus menerus dibodohi para pemilik modal sehingga semakin memperkaya mereka.

4 komentar:

eMingko mengatakan...

seperti itulah taktik marketing, klo saya pribadi to the poin sja klo nyri baju sdh dpt lgsg cabut :))

btw templatenya ada yg error ya mas, di pojok kiri atas [atasnya logo navbar] ada teks "NUxc-s5nRRlq_ILypnHZo72RzWA".

jgn lpa mmpir ke eMingko Blog

Stupid monkey mengatakan...

yep, bingung juga sih, tapi saya kalo belanja paling ke pasar induk deket rumah sih, jarang banget ke mall atau minimarket. dipasar lebih murah dan orangnya bersahaja. ;)

Admin mengatakan...

Memang banyak cara menarik konsumen, baik jika berhati-hati terhadap promo diskon dll. labih baik lagi jika kita bisa mengatur pola konsumtif kita sendiri.

bangwz mengatakan...

akh mo bilang pa ,sbagai pembeli mnikmati z. yang penting yang kita butuhin ada dan kita mampu membelikan'nya tanpa repot2 mengkalkulasikan sistem marketing mereka. pelajari z cara nyari doit yang cpat banyak dan halal ,apa'pun yang ada di toko cm sbagai pelangkap bukan kepuasan ko..../@ salam

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...