Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label virus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label virus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

Hidup dan Empati dengan ODHA di Sekitar Kita

Kali ini saya tidak bercerita detil tentang lokasi wisata dan makanan atau minuman enak. Saya tetap pergi ke sebuah kota, tapi bukan untuk jalan-jalan dan wisata kuliner. Tapi untuk menghadiri Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS di Yogyakarta pada awal Oktober yang lalu. Dalam sebuah sesi, pemateri memberikan 3 pertanyaan menarik yang membuat semua hadirin tersentak. Pertanyaan-pertanyaan sederhana namun merubah perspektif kami semua tentang ODHA (orang yang hidup dengan HIV/ AIDS). 


Pertanyaan pertama, adalah: “Jika tiba-tiba ada orang yang tidak anda kenal mendatangi anda dan mengatakan saya adalah ODHA, apa tanggapan anda?”. Sontak ruangan menjadi ramai, semua orang mengemukakan pendapatnya silih berganti. Ada yang bilang merasa bingung, acuh tak acuh, marah, pergi begitu saja dan banyak lagi. Kesimpulannya, mayoritas hadirin merasa tak peduli dan tak menganggap hal itu adalah urusannya. Jawaban saya sendiri merupakan keingin tahuan terhadap orang tersebut sehingga saya akan bertanya “Kenapa anda menjadi ODHA?” Pemateri hanya tersenyum. 


Pertanyaan berikutnya, “Jika pada suatu hari orang yang anda cintai (bisa pacar, suami, istri, orang tua, anak, adik, kakak dan keluarga) mengatakan bahwa mereka adalah ODHA, apa tanggapan anda?”. Kini ruangan begitu bergemuruh, hampir semua hadirin bersuara lantang. Ada yang bilang pasung, kucilkan, marahi, jangan akui sebagai keluarga hingga yang paling menyakitkan usir atau ceraikan. Jawaban saya sendiri adalah memeluknya, memintanya duduk dan mengambilkan segelas air putih sambil menunggu dengan sabar apalagi hal yang akan diceritakannya. Pemateri lagi-lagi hanya tersenyum.


Pertanyaan terakhir, “Jika anda mengidap HIV positif/ AIDS dan anda harus mengakui kalau anda ODHA kepada orang yang anda cintai (bisa pacar, suami, istri, orang tua, anak, adik, kakak dan keluarga), apa tanggapan yang anda harapkan?”. Kini ruangan berubah menjadi lebih sunyi, hanya sedikit orang yang mengeluarkan pendapat. Mereka ingin tetap dipeluk, disayang, dicintai, diperhatikan dan diyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Itupun dengan terbata-bata. Mereka tidak menyangka kalau pertanyaan terakhir akan seperti ini. What a Shock Therapy! Air muka mereka pun sebagian besar berubah. Pemateri dengan tetap tersenyum memecah kesunyian dengan pertanyaan “Kenapa jawabannya berbeda?”


Setelah hening beberapa saat pemateri kembali berkata yang menenangkan, memberikan penjelasan bahwa selama ini perspektif hampir seluruh masyarakat Indonesia masih keliru (kalau tak mau dibilang salah) tentang ODHA. Ini dibuktikan dengan beragam jawaban terhadap pertanyaan pertama dan kedua. Seperti itulah pola pikir yang berkembang hingga saat ini. Hampir semuanya negatif. Sedangkan jawaban pada pertanyaan terakhir lah yang ideal. Jawaban seperti itu lah yang diharapkan oleh para ODHA keluar dari mulut kita. 


Karena menurut hemat saya, untuk menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap HIV positif/ AIDS saja sudah sangat berat bagi para ODHA. Apalagi, mereka harus mengakuinya di hadapan orang lain, meskipun itu adalah orang-orang terdekatnya. Sulit untuk memiliki keberanian seperti ini, kepercayaan diri untuk bicara jujur tentang kondisi buruk kita kepada orang lain. Meskipun memang, yang menyebabkan mereka menjadi ODHA tidak melulu hal buruk, seperti Narkoba dan Seks Bebas. Sehingga bahkan orang tak berdosa pun ada kemungkinan terjangkit HIV/ AIDS. Dari orang tua kepada anak, misalnya. 


Sebagaimana kita ketahui bersama, HIV/ AIDS juga dapat menular melalui benda-benda yang tercemar oleh darah yang mengandung virus HIV, seperti jarum suntik, gunting, silet, pisau cukur. Sehingga bila tidak steril HIV bisa ditularkan di salon kecantikan, tempat membuat tatto dan piercing bahkan rumah sakit. Karena, HIV pun bisa ditularkan melalui transfusi darah. Inilah yang terkadang belum kita ketahui dan pahami. Entah karena komunikasi, informasi dan edukasi yang kurang dari pihak-pihak yang kompeten atau memang kita yang terkadang tidak mau membuka mata, hati dan pikiran kita. Pertanyaannya, siapa yang menjamin kita akan bebas dari virus ini? 


Sahabat, karenanya kita harus memiliki empati yang tinggi terhadap para ODHA. Mereka adalah saudara, sahabat atau bahkan keluarga kita. Empati berarti mencoba merasakan hal yang sama dengan apa yang mereka rasakan. Memperlakukan sebagaimana diperlakukan. Bila para ODHA mau dan mampu membuka jati dirinya, kini sebaliknya tanggung jawab kita menjawabnya dengan kepedulian, perhatian dan kasih sayang. Bukan justru dengan hujatan, hinaan dan caci maki. Bukalah tangan kita! Marilah membuat diri kita lebih berarti bagi mereka, sebagaimana mereka mencoba mengisi sisa-sisa hari mereka dengan hal-hal bermakna.

Senin, 07 November 2011

Bila Istri/ Pasangan Anda Adalah ODHA

Sebagai seorang pria, setelah kita mengucapkan akad nikah, maka telah sah lah wanita pujaan hati kita menjadi istri sehidup semati. Tiada satu pun yang dapat memisahkan, bahkan maut sekalipun. Apalagi bila kita baca secara seksama di belakang Buku Nikah, bagian Sighat Taklik. Di lembar yang telah kita tanda tangani ini kita berjanji dengan sesungguh hati akan menepati kewajiban sebagai seorang suami dan mempergauli istri dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) sesuai syariat Islam. Tapi bagaimana bila tiba-tiba kita tahu kalau istri kita adalah orang dengan HIV/ AIDS (ODHA)? Apa yang akan anda lakukan? Apakah akan tetap menepati janji atau justru menjilat ludah sendiri? 


Pasti bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena sejak remaja, bahkan mulai anak-anak kita sudah menerima informasi turun temurun yang keliru tentang HIV/ AIDS. Virus atau penyakit ini dianggap kutukan Tuhan kepada hamba-hamba yang berdosa. Sehingga sampai saat ini pun masih banyak di antara kita yang merasa jijik bila bertemu ODHA. Karena HIV/ AIDS dianggap hanya bisa menular lewat hubungan seks, baik dengan lawan jenis maupun sejenis. Tak pernah terpikir kalau HIV/ AIDS pun dapat ditularkan melalui transfusi darah, penggunaan peralatan yang tidak steril secara bersama-sama hingga penularan ibu kepada anaknya. 


Semakin sulit dijawab karena yang timbul di benak kita adalah negative thinking. Jangan-jangan istri kita ini tidak sesuci yang dibayangkan, berperilaku seks bebas atau pengguna narkoba aktif. Stop! Jangan dilanjutkan praduga buruk itu. Pengakuan tulus ikhlas dari pasangan kita itu sudah merupakan sebuah pengorbanan besar. Semuanya tinggal bergantung pada kita, apakah mampu menjawabnya dengan tanggung jawab tinggi? Dia adalah satu-satunya orang yang kita kasihi dan sayangi. Dan ingat, pernikahan bukanlah menyatukan dua orang yang sama-sama sempurna tapi perpaduan dua sosok yang saling mengisi dengan cinta sehingga hidup ini dijalani dengan sempurna. 


Lalu, apa yang harus kita lakukan bila ternyata istri atau pasangan kita adalah ODHA? Banyak! Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan, mengingat dengan pendampingan yang baik, maka ODHA pun dapat mempunyai harapan hidup yang sama dengan kita. Pertama, Jadi diri kita sendiri, apa adanya dan jangan berubah! Ini penting sebagai bentuk dukungan moril awal kepadanya. Tetaplah menatapnya dengan senyum, menciumnya dengan hangat dan memeluknya dengan mesra. Seakan tak ada apapun yang terjadi. 


Kedua, beri dukungan berkelanjutan. Temani saat-saat dia harus konsultasi dan berkunjung ke dokter untuk konsultasi. Ingatkan waktu makan dan minum obat. Jangan bicarakan masa lalunya, apalagi bertanya kenapa dia bisa menjadi ODHA. Kecuali jika dia cerita sendiri tanpa paksaan. Luangkan waktu berkualitas sesering mungkin untuk jalan-jalan, wisata alam atau sekedar pergi ke Mal untuk meringankan beban pikirannya. 


Berikutnya, Lakukan tes Voluntary Counseling and Test (VCT) untuk mengetahui kondisi anda apakah sudah terinfeksi atau belum. Ini penting, karena anda dapat merencanakan masa depan dengan lebih baik, terutama tentang memiliki keturunan, perencanaan keuangan hingga menyusun jadwal kebersamaan dengannya. Keempat, bila hasil VCT anda negatif, anda harus mulai berpikir untuk menggunakan kondom saat berhubungan dengannya. Tidak perlu takut sehingga anda memutuskan untuk tidak menggaulinya. Untuk keputusan memiliki anak, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu dengan dokter yang berkompeten. 


Terakhir, gali informasi sebanyak mungkin tentang HIV/ AIDS, ODHA dan kelompok sebaya dari sumber-sumber terpercaya. Jangan segan dan malu untuk bertanya sehingga semuanya menjadi jelas. Kelompok sebaya juga menjadi tempat yang tepat untuk bertukar pikiran, karena pengalaman mereka menangani sesama ODHA dengan penguatan mental dan psikologis. Sehingga anda dapat memastikan dukungan yang tepat bagi kekasih. 


Ya, bicara tentang ODHA bukan bicara pesimistis bahwa belum ada obatnya, ajalnya sudah dekat atau kurangnya perhatian pemerintah. Tapi, bicara ODHA, apalagi bila ini terkait pasangan kita, adalah penguatan hati dan keteguhan jiwa: Optimis! Yang terpenting adalah perubahan sikap dan perilaku, dari acuh tak acuh menjadi peduli, dari cinta menjadi semakin cinta dan bukan justru sebaliknya. Karena, kita, kasih sayang kita dan doa kita lah obat terbaik untuknya.


Kamis, 03 November 2011

Kematian Khadafi Menyebarkan Virus, Waspadalah!

Main. Video dan gambar meninggalnya pemimpin besar Libya Muammar Khadafi yang menarik banyak pengguna internet untuk mendownload ternyata berbahaya. Video dan gambar tersebut diduga Trend Micro mengandung spam dan file berbahaya. Setidaknya ada 3 kasus temuan terkait hal ini. Pertama sebagai pesan ke email denga nmenyamarkan diri sebagai newsletter CNN dari Spanyol. email ini menginformasikan pengguna untuk mendownload rekaman video kematian Khadafi bernama video-khadafi.mpeg.exe. Ternyata file ini membaa malware dengan identifikasi BKDR_IRCBOT.DAM. 


Spam kedua ditemukan dalam bentuk attachment.RAR yang juga dikirim via email. Dengan memberitahukan bahwa isinya adalah gambar-gambar tubuh terakhir Muammar Khadafi. Nah, saat kita mengekstraknya, malware pun mulai menyerang. Terakhir, pesan berisi file Ghadafi.exe yang diduga malicious yang dideteksi sebagai BKDR_EXDEPH.A. 


Ini merupakan perubahan modus lama menjadi serangan canggih dengan teknik baru yang lebih efektif dalam mengelabui dan menyerang pengguna. Mereka terus merilis varian threat baru yang lebih cepat dan acak dengan mendompleng isu-isu aktual. Penulis pun mendapatkan email-email serupa yang langsung dihapus tanpa melihatnya. Kita harus waspada, jangan sampai rasa penasaran membuat komputer kita rusak dan semua informasi di dalamnya jadi milik para penyerang. Waspadalah!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...