Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label AEL indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AEL indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

Mobile, Man, Money

Sudah hampir 2 tahun saya bekerja di AEL Indonesia, perusahaan asing yang melayani penjualan bahan peledak dan layanan peledakan tambang milik Afrika Selatan. Saat ini ada 6 proyek kami yang seluruhnya berada di Kalimantan Timur. 3 di Kutai Barat, 2 di Kutai Kartanegara dan 1 yang paling besar di Kutai Timur. Karyawannya sudah berjumlah ratusan, mayoritas laki-laki dan hampir seluruhnya bekerja di lokasi dengan sistem 6 minggu kerja dan 2 minggu cuti. Saya sendiri meskipun sering mengunjungi site-site tersebut, sistem kerjanya tetap 5 hari seminggu dan 16 hari cuti setahun. 


Saat cuti beberapa waktu lalu, saya bercengkrama dengan istri yang berprofesi sebagai dokter dan sangat concern terhadap TB-HIV. “Aa (panggilan sayang)... Aa tuh masuk laki-laki risti loh!” ujarnya manja. “Apa itu risti?” tanyaku penasaran. “Resiko tinggi!” Jawabnya singkat. “Maksudnya?” Rasa penasaranku belum terpuaskan. “Iya laki-laki risti atau laki-laki dengan resiko tinggi tertular HIV/ AIDS”. Aku mengalihkan mataku dari majalah ke dirinya, menatapnya lekat sambil berharap mendapatkan penjelasan lebih gamblang.  


Akhirnya aku pun dijelaskan dengan rinci. Bahwa penularan atau infeksi virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebenarnya sangat jarang terjadi di tempat kerja. Kecuali, bila terjadi insiden yang melibatkan kontak darah atau cairan tubuh lainnya. Nah, menurutnya ciri laki-laki risti atau beresiko tinggi tertular HIV/ AIDS di tempat kerja disingkat dengan 3M (mirip dengan judul blogku ya?), yaitu Mobile, Man, Money. Laki-laki dengan mobilitas tinggi/ pekerjaannya berpindah-pindah dan memiliki uang. Nah loh! Jantungku berdetak lebih kencang. 


Istriku menenangkan, bahwa biasanya ini disertai ciri tambahan, yaitu usia yang belum matang dan pemahaman tentang IMS dan HIV/AIDS yang masih kurang. Mobile, maksudnya bekerja dengan berpindah-pindah atau jauh dari keluarga maupun pasangannya. Sehingga, saat situasi mendesak mendorong mereka berpotensi menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK) atau Wanita Pekerja Seks (WPS) untuk memuaskan birahinya. Aku berpikir fakta ini ada benarnya, apalagi di sekitar lokasi tambang banyak lokalisasi dan panti pijat tradisional yang menawarkan layanan yang kurang lebih sama. Terlebih, banyak pekerja tambang yang masih berusia muda di bawah 25 tahun. Di sinilah moral dan akhlak berperan penting meredam nafsu. 


Money, maksudnya lelaki yang memiliki uang banyak akan dengan mudah tergoda untuk menikmati layanan seksual. Situasi memiliki uang banyak ini bisa saat baru saja menerima upah, saat panen raya atau saat memegang uang proyek. Jadi, korupsi pun ikut berperan disini. He7x... Pantas saja beberapa skandal seks melibatkan anggota DPR dan pejabat publik baik di pusat maupun daerah. Dan, baru-baru ini saya juga melihat berita bahwa HIV/ AIDS meningkat tajam di beberapa daerah karena sedang panen hasil kebun dan ikan. Wow! 


Jadi inilah yang dimaksud istriku 3M, Mobile, Man, Money. Memang uang menjadi pangkal segalanya untuk melakukan perselingkuhan fisik terutama rasa penasaran menikmati layanan seksual dari PSK/ WPS. Akhirnya ketidak setiaan pada satu pasangan seksual berimbas pada resiko penularan HIV/ AIDS. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga sangat mungkin untuk istri dan anak-anaknya kelak. Tetap waspada ya, meskipun uang banyak jangan pernah neko-neko. Dampak buruknya lebih besar!

Selasa, 08 November 2011

Mengenal Dapunta dalam Film Pengejar Angin

Main. Senin, 7 Nopember kemarin, selepas waktu kerja saya Achmad Annama (Anam) janji nge-date dengan istri saya Merry Samsuri (Merry) di Cilandak Town Square, atau biasa dikenal dengan Citos. Dari Menara Talavera, dimana perusahaan saya AEL Indonesia berkantor di lantai 2 tinggal jalan saja beberapa menit. Selain nonton dan dinner, rencananya kami akan keliling mal ini mengingat belum pernah mengunjunginya berdua. He7x... Norak ya? Singkat cerita, kami bertemu dan langsung menuju lantai 2, tempat dimana studio-studio 21 berada.


Dari beberapa film yang diputar, ada yang sudah pernah kami tonton, ada juga yang memang kami tidak suka. Akhirnya, pilihan jatuh pada film lokal karya Hanung Bramantyo yang disponsori Pemerintah Daerah (Pemda) Sumatera Selatan berjudul Pengejar Angin. Tokoh utamanya bernama Dapunta, seorang anak gembong bajing loncat di hutan Lahat yang punya cita-cita tinggi kuliah di UI dan meninggalkan dunia kelam. Bukan filmnya   yang akan saya ceritakan disini karena pasti sudah banyak sinopsisnya. Tapi saya ingin membahas tentang siapa pemeran Dapunta, yaitu: Qausar Harta Yudana.


Ya, Qausar adalah aktor anyar dalam dunia perfilman Indonesia. Ini adalah film keduanya setelah bermain dalam Sang Pencerah yang dibesut sutradara yang sama. Sebelumnya ia lebih banyak bermain di sinetron, seperti Habibi dan Habibah, Samson Betawi dan Syamsul-Badriah. Inilah yang membuatnya matang dalam berakting. apalagi ada darah akting yang dialirkan dari ibunya yang mantan seniman tari Aceh. Nah, di film ini dia harus berperan sebagai Dapunta, pelajar SMA yang berwatak keras dan jago berkelahi. Ia juga harus beradu akting dengan para aktor kawakan, seperti Lukman Sardi, Mathias Muchus dan Wanda Hamidah.


Ia mampu memunculkan karakternya yang kuat dan menarik simpatik banyak penonton. Setting kehidupannya tidak hanya membuat kita menangis saat menontonnya tapi juga menumbuhkan semangat terus berjuang dalam meraih cita-cita. Sesuai dengan karakter Dapunta, yang berhasil menjadi Raja yang arif bijaksana bagi seluruh rakyat Sriwijaya. Nice acting, Qausar! Teruslah berkarya melalui peran-peran penting dalam film-film bermutu.


Sabtu, 08 Oktober 2011

Es Campur Pas-pasan di Tengah Hutan

Minum. Ceritanya, Jumat 7 Oktober 2011 kemarin, saya akan kembali pulang dari Melak, Kutai Barat menuju Balikpapan. Malamnya langsung terbang ke Jakarta karena hari ini pernikahan iparku, Susanto Samsuri di Alam Sutera Sports Centre, Tangerang. Saya pulang bersama Peter Blyton, yang menjabat sebagai Field Operation Specialist di AEL Indonesia. Setelah sarapan pagi di kantin PBU, kami meluncur menggunakan Ford Everest. Setelah berjam-jam berkendara, kami sepakat rehat di sekitar Kota Bangun, Kutai Kertanegara karena dia akan bertemu temannya, Project Manager Petrosea Gunung Bayan. Kami pun berhenti di sebuah warung di tengah hutan yang serba ala kadarnya.


Melihat menu yang tersedia, ada beberapa penganan berat tapi belum lapar. Akhirnya saya tertarik mencoba Es Campur saja. Tak lama semangkok Es Campur dengan serutan es yang menggunung dengan lelehan susu kental manisnya sudah tersaji di meja saya. Saya nikmati minuman segar tersebut sambil sesekali menguping gosip antara 2 bule Australia itu yang membicarakan tentang bisnis grup Indika. Hmhmhm, bagaimana ya rasanya? Ada yang kurang pas! Siropnya kurang manis dan isi campurannya hanya 4 macam saja, tanpa kolang-kaling, tape atau rumput laut. Ya, terpaksa menikmati kuliner dengan rasa terbatas tersebut. Apa yang bisa kita harapkan di tengah hutan seperti ini. Lumayan lah untuk menghilangkan dahaga. Setelah selesai kami pun melanjutkan perjalanan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...