Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label pedas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pedas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2011

Kedahsyatan Rasa Rendang Belalang Sawah Lunto

Makan. Beberapa hari lalu, sahabat saya, Jerri Mapanta Chaniago mengirim email kepada saya, Achmad Annama (Anam) bahwa dia akan memberikan oleh-oleh berupa Rendang Belalang langsung dari Sawah Lunto, Sumatera Barat. "Hah? Belalang?" Teriakku dalam hati. Penasaran, aku mulai browsing di internet, mencari tahu makanan apa ini sebenarnya. Hasilnya? Nol besar! Tidak ada satu informasi pun yang signifikan. Rabu sore, dia sms bahwa teman yang dititipinya Rendang Belalang sudah mendarat di bandara Sepinggan, Balikpapan. tak menunggu waktu lama, saya minta seseorang untuk mengambilnya. Penasaran...

Di depan saya sekarang sudah hadir 2 plastik berisi Rendang Belalang. Memang bukan untuk saya semuanya, tapi untuk seluruh teman-teman kantor. Tapi, saya sudah tak sabar membukanya. "What! It's True!" Batinku, Ya, tiap plastik berisi 6 bongkah daging rendang kering dengan balutan daun singkong dan entah berapa ratus ekor belalang. Menyadari bentuk binatang kecil di hadapannya, sebagian teman mundur teratur. Sementara saya tetap penasaran. Saya comot seekor belalang mungil tak berdosa itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Kress... renyah! Enak, setelah dikunyah dan dilumat di mulut, saya simpulkan rasanya mirip udang kecil. Gurih dan sedikit manis bercampur dengan pedas khas rendang. Wow, sensasional!

Sayang tidak ada nasi putih. Padahal, pasti akan lebih asyik menikmati Rendang Belalang ini di atas nasi putih panas yang masih mengepul. Akhirnya saya ambil piring, saya tiriskan sebongkah daging beserta daun singkong dan belalangnya. Saya nikmati sambil tak henti-henti bergumam karena sensasi rasanya. Sementara teman-teman lain terbengong-bengong melihat saya. Tak lama, tandaslah piring itu. Tuntas semua! Saya sms pak Jerri untuk mengucapkan terima kasih dan bertanya apakah Rendang Belalang ini juga di jual di Jakarta? Dia bilang, sepertinya itu baru mulai menjadi tren di Sumatera Barat, khususnya Sawah Lunto. Duh, sayang sekali! Padahal saya suka sekali. Bayangkan, anda menikmati makanan terenak sedunia versi CNN, dikombinasikan dengan daun singkong dan belalang! Mau?

Rabu, 17 Agustus 2011

Ketagihan Kijing Bumbu Pedas

Makan. Kijing adalah kata dalam Bahasa Jawa yang artinya sejenis kerang yang hidup di sungai. Dalam Bahasa Melayu disebut Remis, dan dalam Bahasa Sunda namnya Haremis. Kijing sangat suka mengendap di dasar sungai yang berpasir dan bersuhu dingin. Kulitnya berwarna kuning  ada juga bagian yang berwarna biru kehitaman. Kulitnya keras seperti marmer licin tapi tidak berbulu. Jik dibuka, akan terlihat bagian dalamnya yang seperti Kepah atau Kupang dalam Bahasa Jawa Timur yaitu mirip kerang tetapi putih dan gepeng melebar.

Nah, tak jauh dari rumahku ada sebuah kedai yang menjual Kijing Bumbu Pedas, Kedai Bude namanya. Ya, bude maksudnya tante dalam bahasa Jawa. Kedainya hanya 2 buah meja di satukan plus 1 bangku panjang. Dia menjual kijing hanya pada bulan puasa, menjelang berbuka. Di luar itu, hari-hari biasa dia menjual nasi kuning. Cukup laris, terutama mereka yang membawa bekal untuk sarapan di kantor.

Kembali ke laptop! Jadi, ceritanya saya ngefans sekali dengan Kijing Bumbu Pedas ini. Beberapa saat sebelum buka akhirnya saya puaskan rasa penasaran saya dengan membeli 2 plastik penuh seharga enam ribu rupiah saja.Istri saya kemudian menyajikannya di atas piring beling biru. Setelah mendengar adzan dan makan kolak, saya pun tak melewatkan waktu lagi dan langsung mengupas dan mencuil daging kijing yang empuk. Rasanya kenyal dan manis berpadu dengan bumbunya yang pedas. Enak! Dan, membuat ketagihan. Tapi istri mengingatkan untuk tidak terlalu banyak, agar tidak sakit perut. Gapapa deh, yang penting sudah terpuaskan. Sayang si bude hanya menjualnya saat bulan puasa.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...