Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

Tablanusu, Pesona Wisata Baru Papua

Main. Jika anda sedang berkunjung ke Jayapura, Papua sempatkan untuk mampir ke desa wisata Tablanusu di Depapre. Dari Jayapura anda cukup naik bus menuju Sentani sejauh 33km lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil carteran ke Dermaga Depapre selama 90 menit. Dari dermaga tersebut hanya memakan waktu 20 menit saja. Di Tablanusu ada 3 jenis wisata, yaitu wisata alam, wisata sejarah dan wisata budaya. Fasilitas pendukungnya juga cukup memadai, seperti penginapan, pemandu wisata, sewa kendaraan dan lainnya. Sehingga, Tablanusu sudah cukup nyaman untuk dikunjungi. 


Saat memasuki desa ini, anda akan disambut suasana pegunungan yang masih asri, sejuk dan hijau. Tablanusu juga memiliki pantai yang tidak hanya dengan pasir putih yang indah dan bersih, tapi juga terdapat koral-koral kecil di sepanjang bibir pantainya yang dapat difungsikan untuk pijat refleksi alami telapak kaki anda. Air lautnya pun jernih berisi aneka ragam ikan dan terumbu karang yang menawan. Sangat pas bila dijelajahi dengan snorkling atau diving. Bila ingin merasakan sensasi lain, anda dapat ikut melaut di malam hari bersama para nelayan untuk mencari ikan. 


Desa seluas 230,5 hektar ini juga memiliki Danau Dukumbo. Disini anda dapat memancing aneka ikan air tawar, seperti bandeng, mujair dan mas sambil ditemani kicauan aneka burung dan berbagai macam jenis tumbuhan. Selain itu, ada dua pulau yang cukup dekat jaraknya dan memiliki anggrek endemik Papua. Di sore hari, dua pulau tersebut juga menjadi tempat persinggahan aneka jenis burung yang hinggap di ranting pepohonan dan seolah berbaris membentuk sebuah pemandangan yang indah menjelang matahari terbenam. 


Desa yang memiliki arti tempat matahari terbenam ini, memiliki sisa-sisa peninggalan tentara sekutu pada Perang Dunia II. Menurut sejarah, kampung ini pernah menjadi salah satu basis tentara sekutu di kawasan timur Indonesia. Anda dapat menjumpai landasan meriam dan dermaga bekas pendaratan tentara sekutu. Desa ini terbagi dalam sepuluh suku, yaitu Suku Sumile, Danya, Suwae, Apaserai, Serantow, Wambena, Semisu, Selli, Yufuwai, dan Yakurimlen. Maka, akan banyak keanekaragaman budaya yang Anda temui di tempat ini. Keunikan Desa ini adalah memiliki beberapa obyek dalam satu tempat. Keeksotisan di Desa Tablanusu takkan pernah bisa Anda ungkapkan dengan kata-kata.

Jumat, 30 September 2011

Sejarah Singkat Bedug di Nusantara

Main. Hampir seluruh masjid di Indonesia memiliki bedug, biasanya dipergunakan sesaat sebelum adzan untuk mengingatkan waktu shalat dan mengajak umat Islam shalat berjamaah di Masjid. Ada yang berpendapat, bedug terkait erat dengan budaya Tiongkok yang dibawa masuk ke masjid-masjid nusantara oleh Laksamana Cheng Ho yang kebetulan juga muslim. Namun, bila ditilik dari sisi sejarah, nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, semacam genderang untuk ritual minta hujan yang terbuat dari perunggu atau logam lainnya.


Kata bedug sendiri sudah disinggung dalam kidung Malat, karya sastra berisi cerita-cerita panji yang ditulis pada zaman Majapahit di abad 14-16 masehi. Disana disebutkan 2 macam bedug, yaitu bedug besar yang diberi nama tegteg dan bedug biasa. Pada masa itu bedug berfungsi sebagai alat komunikasi, penanda waktu dan pemberi peringatan. Menurut Cornelis de Houtman dalam D'Eerste Boek, penggunaan bedug sudah meluas pada abad ke-16. Ini dia saksikan sendiri saat ekspedisi ke Banten.


Bedug dapat disebut sebagai perwujudan akulturasi budaya lokal dengan Tiongkok, India dan Timur Tengah. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengukuhkan penggunaan bedug dan kentongan sebagai bagian syiar Islam yang selama ini telah dirintis oleh para Wali Songo. Meskipun saat ini penggunaan bedug sudah mulai digerus gerakan modernisme Islam, namun di pelosok desa-desa muslim di seluruh nusantara sisa-sisanya masih banyak kita lihat. Sudah sepantasnya bedug sebagai warisan budaya kita lestarikan dan jaga bersama-sama.

Sabtu, 02 Juli 2011

Masjid Agung Serang, Banten

Main. Masjid Agung Serang terletak di Jl. Veteran 43 Kota Serang, Tiap hari masjid ini selalu dikunjungi oleh warga sekitar dan warga luar Serang untuk menunaikan sholat fardhu. Masjid ini didirikan Bupati Serang R.T. Condronegoro (1849-1870). Saat ini sudah dilengkapi berbagi fasilitas, seperti perpustakaan, gedung serbaguna Islamic Center dan pusat pengobatan murah.

Masjid atap tumpak tiga yang sempat dibongkar dan dibangun ulang pada tahun 1990 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat R. Nuriana pada tahun 1994 ini beberapa struktur bangunannya meniru Masjid Agung Banten. Masjid ini berdiri diatas lahan seluas 2,6 hektar. Dan di belakangnya ada lahan pemakaman umum. Inilah salah satu tujuan kami berkunjung ke Serang, awal Juli 2011 lalu.

Saya Achmad Annama (Anam) bersama istri, Merry Samsuri dan keluarga besar untuk ziarah ke makam Kiki-Nini kami (orang tua mama) disana. Selesai ziarah kami pun menyempatkan shalat dan melihat-lihat sekeliling. Bila anda datang ke Serang, jangan lupa untuk mampir ke Masjid bersejarah ini. Sekedar shalat, berziarah, berfoto-foto atau menikmati kesegaran es cendol di depannya. Main yuk ke Masjid Serang, lokasinya tepat di tengah kota, tidak terlalu jauh dari pintu tol.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...