Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label anggrek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anggrek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

Anggrek Merapi yang Nyaris Punah

Main. Terjangan awan panas dari Gunung Merapi yang telah terjadi beberapa kali semakin mengancam keberadaan anggrek Vanda Tricolor. Ya, kerusakan kawasan hutan di lereng selatan ini mengancam keberadaan anggrek khas Merapi ini hingga nyaris punah. Terjangan awan panas erupsi Merapi pada 1994 menghapuskan hampir seluruh habitat asli anggrek tersebut. Ditambah lagi terbakarnya Plawangan Turgo pada 2002 dan kembali erupsi Merapi pada 2006 dan 2010.

Anggrek unik berwarna putih dengan bercak totol ungu ini tumbuh liar menempel pada batang-batang dadap, angsana dan pohon lainnya di lereng selatan Merapi di Sleman. Beberapa pihak dan komunitas lingkungan di Yogyakarta sudah berupaya mengambil beberapa langkah pencegahan. Selain berusaha membudidayakannya, bibit anggrek ini pun dibagikan gratis kepada siapapun yang berniat memeliharanya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta juga membentuk unit pelaksana budidaya yang disebut kelompok tani konservasi. Hanya saja, sampai saat ini hasilnya belum optimal. Sebagai generasi muda, alangkah baiknya bila kita pun memiliki kepedulian yang tinggi terhadap warisan flora langka asli Indonesia ini. Karena kalau bukan kita siapa lagi? Dan, kalau bukan sekarang kapan lagi?

Rabu, 03 Agustus 2011

Nasib Anggrek Indonesia

Dari 20 ribu jenis Anggrek di dunia, sekitar 25% berada di Indonesia. Ini peluang dan potensi untuk melakukan budidaya anggrek. Pemerintah juga harus mendukungnya karena langkah ini dapat meningkatkan taraf ekonomi rakyat sekaligus melestarikan anggrek sebagai tanaman hias khas Indonesia.

Namun, hingga saat ini sangat jarang baik masyarakat umum maupun petani yang membudidayakan anggrek. Selain karena dianggap mahal, anggrek juga dipahami sulit dipelihara. Padahal, ini karena kita belum tahu bagaimana cara menanam dan memeliharanya dengan baik dan efisien.

Sepantasnya pemerintah dan dunia bisnis bekerja sama dengan akademisi dan petani dalam melakukan budidaya anggrek. Sehingga selain dapat mempertahankan dan mengembangkan keaneka ragaman hayati juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Yang ada sekarang, Indonesia hanya mengirimkan plasma nnutfah (zat pembawa sifat keturunan) ke Thailand atau Vietnam. Mereka lah yang nantinya mengembangkan dan mengekspor anggrek-anggrek yang sudah berkembang tersebut ke seluruh dunia, bahkan kembali diimpor ke Indonesia. Mengenaskan ya?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...