Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label daya tarik wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daya tarik wisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2011

Daya Tarik dan Mitos Pulau Ular di Bima Timur

Main. Ada sebuah pulau kecil di Desa Pai, kecamatan Wera Bima bagian timur, letaknya dekat sekali dengan daratan Pulau Sumbawa dan 2 destinasi wisata lain, yaitu pulau Gilibanta dan Tolowamba. Orang-orang Bima menyebutnya Pulau Ular, karena pulau ini hanya dihuni oleh sekelompok ular-ular jinak yang tidak mengganggu penduduk. Yang menarik sebenarnya bukan karena banyaknya ular atau tidak adanya manusia yang mau tinggal di pulau seluas 500 m2 ini, tapi lebih karena ular-ular ini unik, berbeda dengan ular lain di Bima. Kenapa? Karena ular-ular ini mencari makan di dalam laut dan beristirahat di atas pulau di celah-celah bebatuan dan bergelantungan di tebing-tebing terjal. Ini menjadi daya tarik tersendiri. 


Ular-ular berwarna hitam putih cerah itu sangat mempesona bila tertimpa cahaya matahari. Wisatawan sangat menyukai momen-momen menyaksikan pemandangan langka ini. Mereka tanpa ketakutan mengalungkan ular-ular besar ini di lehernya. Yang tak kalah aneh, bentuk ekor ular ini sudah pipih menyerupai ekor ikan. Para nelayan sering menemukannya masuk dalam jaring, namun segera dilepaskan karena mitos khusus terhadap ular tersebut. Ular ini tak bisa dibawa kemana-mana, karena akan selalu kembali ke habitatnya. Kalau tidak bisa kembali, dipercaya akan mendatangkan bencana bagi masyarakat Desa Pai. Karenanya, masyarakat desa sangat menjaga kelestarian satwa itu. 


Secara ilmiah ada 2 asumsi dugaan keberadaan ular itu. Pertama, ular-ular itu sama dengan ular-ular yang berada di daratan pulau-pulau pada umumnya. Tapi karena pulau itu mengalami abrasi komunitas tempat mereka tinggal sehingga mengalami evolusi. Asumsi kedua, ular-ular itu adalah Ular Laut yang sangat langka dan habitatnya hanya terdapat di Desa Pai Kecamatan Wera, Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat ini. Tapi anehnya, ular-ular itu melakukan pemijahan telur di pulau tersebut bukan di laut. Keberadaan ular ini, sangat menarik perhatian sehingga disarankan penelitian lebih lanjut. Masyarakat setempat justru menganggap komunitas ular yang populasinya hanya 700 ekor ini sebagai Ular Jadi-jadian yang menjaga pulau utama dari kedatangan penjajah. Pulau itu sendiri dianggap penjelmaan kapal Belanda.  


Sudah sepantasnya pemerintah daerah, khususnya dinas kebudayaan dan pariwisata menjadikan Pulau Ular Kabupaten Bima ini sebagai cagar alam yang mesti dilindungi dan didukung oleh berbagai kebijakan payung hukum untuk mendukung pelestarian dan promosinya sebagai salah satu destinasi wisata unik. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita siapa lagi? Anda ingin berkunjung ke sini? Cukup menempuh waktu sekitar 45 menit dari kota Bima dan dilanjutkan dengan perahu/ sampan yang disewakan warga setempat selama 15 menit.

Minggu, 23 Oktober 2011

Ternate, Pesona kota Sejuta Benteng

Main. Kota Ternate merupakan kota kepulauan dengan 8 pualu yang memiliki luas wilayah 547,736 km². Pulau Ternate, Pulau Hiri, Pulau Moti, Pulau Mayau, dan Pulau Tifure merupakan lima pulau yang berpenduduk, sedangkan tiga pulau lain seperti Pulau Maka, Pulau Mano dan Pulau Gurida berukuran kecil dan tidak berpenghuni. Sebagian besar daerah Ternate bergunung dan berbukit, terdiri atas pulau vulkanis dan pulau karang dan ditandai dengan keberagaman ketinggian dari permukaan laut antara 0-700 m dpl.


Kontur tanah berbukit inilah yang menyebabkan para penjajah membangun banyak benteng untuk mempertahankan pulau penghasil rempah-rempah bagi mereka. Nah, jejak kolonial dan hebatnya daya tarik Ternate bagi para penjajah Eropa dapat dilihat dari banyaknya benteng di kota ini. Berikut di antaranya yang layak dijadikan destinasi wisata:


Benteng Oranye 
Dibangun pada 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge dari Belanda. 
Benteng Kalamata (Santa Lucia) 
Benteng berjuluk Kayu Merah ini semula dibangun oleh Piyageta atau Portugis pada 1540. Kemudian dipugar oleh Pieter Both dari Belanda pada 1609. 
Benteng Tolukko (Santo Lucas) 
Dibangun Fransisco Serao, seorang berkebangsaan Portugis, pada 1540 yang kemudian direnovasi Pieter Both dari Belanda pada 1610. 
Benteng Kotanaka 
Dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18. Letaknya di samping kanan sebelah utara Kedaton Sultan Tenate, di atas sebuah bukit. 
Benteng Gamlamo (Santo Paolo, Nostra Senora de Rosaria) 
Dibangun pada 3 Juni 1522 sebagai benteng pertama yang dibangun Portugis sejak kedatangan mereka di Ternate pada 1515. Di benteng inilah Sultan Khairun dijebak dan kemudian dibunuh oleh Portugis pada 1570. 


Selain itu juga ada benteng-benteng Lainnya yang tak kalah menarik, seperti: Benteng Kastela dan Banteng Santo Predo di kota Ternate, Benteng Tahuela dan Benteng Tjobee di Kota Tidore Kepulauan, Benteng Peninggalan PD II dan Benteng Portugis di Kabupaten Halmaera Timur, Benteng Bernaveld dan Benteng Mauritz di Kabupaten Halmahera Selatan, Benteng Dervarwaching di Kabupaten Kepulauan Sula dan Meriam Antik dan Bunker di Pulau Kao.

Jumat, 23 September 2011

Komodo Peka dengan Bau Darah dan Warna Merah

Main. Sebelum mendukung Komodo menjadi salah satu 7 keajaiban alam yang baru (New 7 Wonders of Nature) dengan cara mengirim sms berisi kata KOMODO ke 9818, anda perlu tahu salah satu keunikannya. Binatang purba endemis Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan nama latin Varunas Komodoensis ini ternyata sangat peka dengan bau anyir darah dan warna merah! Wow...


Ini dapat kita ketahui saat akan berkunjung ke sana. Para pemandu wisata, jagawana maupun masyarakat setempat mengingatkan kita untuk tidak menggunakan pakaian atau aksesoris berwarna merah. Perempuan yang sedang datang bulan/ menstruasi juga diwanti-wanti untuk tidak ikut mengunjungi hewan eksotik yang menjadi daya tarik wisata ini? Kenapa? Penciuman reptil raksasa ini sangat peka terhadap aroma anyir dan amis darah. Sedangkan penglihatannya sangat tajam bila melihat warna merah dan merangsang instingnya untuk menyerang. Oleh karena itu, perhatikan baik-baik hal ini saat anda berkunjung kesana.


Unik bukan? Dan satu lagi, komodo hanya ada di Indonesia. Karenanya, sebagai warga negara Indonesia sudah selayaknya kita mendukung Komodo menjadi pemenang salah satu dari 7 keajaiban alam yang baru. Selain dengan mengetik sms seharga Rp. 1 seperti di atas, anda juga dapat melakukan voting di internet maupun dengan sambungan telpon internasional. Pilih Komodo dan 6 kandidat lainnya yang harapan menangnya lebih rendah. Untuk lebih jelasnya, klik www.new7wonders.com. Kita masih punya waktu 4 minggu. Semoga Komodo berhasil menang!

Rabu, 07 September 2011

Ratusan Burung Langka Bersarang di Jakarta

Main. Ratusan burung Cikalang Christmas (Fregeta Andrewsi), salah satu burung laut paling langka di dunia ternyata betah tinggal di Indonesia, tepatnya di Teluk Jakarta. 10-20% dari populasi burung Cikalang dunia secara teratur berkumpul di sekitar pulau Rambut, sekitar 4 km dari lepas pantai Jakarta Utara. Mereka tampak nyaman hidup dan berkerumun diantara kerambah dan sampah-sampah ibukota.

Cikalang Christmas adalah burung laut berbadan besar dengan bulu hitam ekor panjang yang bercabang. Burung yang hampir punah ini hanya sekitar 3.000 ekor saja, dikembang biakkan di Pulau Christmas (Australia). Tapi, sepertinya mereka tidak kerasan disana dan lebih memilih ke selat Sunda dan Teluk Jakarta. Belum adanya perlindungan hukum dan kondisi mengenaskan teluk yang kotor dan banyak polusi mengancam fauna ini.

Kita sebagai masyarakat Jakarta berpartisipasi bersama menjaga keberlangsungan hidup burung-burung tersebut. Apalagi, Cikalang Chirstmas memilih teluk Jakarta sebagai habitat barunya secara alami. Sayangnya, baik pemerintah daerah maupun masyarakat belum melakukan apa-apa untuk melindunginya. Padahal, ini akan menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi Indonesia, khususnya Jakarta.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...