Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

Mobile, Man, Money

Sudah hampir 2 tahun saya bekerja di AEL Indonesia, perusahaan asing yang melayani penjualan bahan peledak dan layanan peledakan tambang milik Afrika Selatan. Saat ini ada 6 proyek kami yang seluruhnya berada di Kalimantan Timur. 3 di Kutai Barat, 2 di Kutai Kartanegara dan 1 yang paling besar di Kutai Timur. Karyawannya sudah berjumlah ratusan, mayoritas laki-laki dan hampir seluruhnya bekerja di lokasi dengan sistem 6 minggu kerja dan 2 minggu cuti. Saya sendiri meskipun sering mengunjungi site-site tersebut, sistem kerjanya tetap 5 hari seminggu dan 16 hari cuti setahun. 


Saat cuti beberapa waktu lalu, saya bercengkrama dengan istri yang berprofesi sebagai dokter dan sangat concern terhadap TB-HIV. “Aa (panggilan sayang)... Aa tuh masuk laki-laki risti loh!” ujarnya manja. “Apa itu risti?” tanyaku penasaran. “Resiko tinggi!” Jawabnya singkat. “Maksudnya?” Rasa penasaranku belum terpuaskan. “Iya laki-laki risti atau laki-laki dengan resiko tinggi tertular HIV/ AIDS”. Aku mengalihkan mataku dari majalah ke dirinya, menatapnya lekat sambil berharap mendapatkan penjelasan lebih gamblang.  


Akhirnya aku pun dijelaskan dengan rinci. Bahwa penularan atau infeksi virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebenarnya sangat jarang terjadi di tempat kerja. Kecuali, bila terjadi insiden yang melibatkan kontak darah atau cairan tubuh lainnya. Nah, menurutnya ciri laki-laki risti atau beresiko tinggi tertular HIV/ AIDS di tempat kerja disingkat dengan 3M (mirip dengan judul blogku ya?), yaitu Mobile, Man, Money. Laki-laki dengan mobilitas tinggi/ pekerjaannya berpindah-pindah dan memiliki uang. Nah loh! Jantungku berdetak lebih kencang. 


Istriku menenangkan, bahwa biasanya ini disertai ciri tambahan, yaitu usia yang belum matang dan pemahaman tentang IMS dan HIV/AIDS yang masih kurang. Mobile, maksudnya bekerja dengan berpindah-pindah atau jauh dari keluarga maupun pasangannya. Sehingga, saat situasi mendesak mendorong mereka berpotensi menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK) atau Wanita Pekerja Seks (WPS) untuk memuaskan birahinya. Aku berpikir fakta ini ada benarnya, apalagi di sekitar lokasi tambang banyak lokalisasi dan panti pijat tradisional yang menawarkan layanan yang kurang lebih sama. Terlebih, banyak pekerja tambang yang masih berusia muda di bawah 25 tahun. Di sinilah moral dan akhlak berperan penting meredam nafsu. 


Money, maksudnya lelaki yang memiliki uang banyak akan dengan mudah tergoda untuk menikmati layanan seksual. Situasi memiliki uang banyak ini bisa saat baru saja menerima upah, saat panen raya atau saat memegang uang proyek. Jadi, korupsi pun ikut berperan disini. He7x... Pantas saja beberapa skandal seks melibatkan anggota DPR dan pejabat publik baik di pusat maupun daerah. Dan, baru-baru ini saya juga melihat berita bahwa HIV/ AIDS meningkat tajam di beberapa daerah karena sedang panen hasil kebun dan ikan. Wow! 


Jadi inilah yang dimaksud istriku 3M, Mobile, Man, Money. Memang uang menjadi pangkal segalanya untuk melakukan perselingkuhan fisik terutama rasa penasaran menikmati layanan seksual dari PSK/ WPS. Akhirnya ketidak setiaan pada satu pasangan seksual berimbas pada resiko penularan HIV/ AIDS. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga sangat mungkin untuk istri dan anak-anaknya kelak. Tetap waspada ya, meskipun uang banyak jangan pernah neko-neko. Dampak buruknya lebih besar!

Kamis, 24 November 2011

(Dengan Mitos Keliru) AIDS Tak Dapat Dicegah

Kisah ini saya alami sekitar sepuluh tahun lalu, saat masih kuliah di program ekstensi (PE) Komunikas Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Kala itu saya bersama beberapa teman mendapat kesempatan untuk menjadi Koordinator Lapangan (Field Coordinator) untuk proyek Behaviour Surveillance Survey (BSS) – survei pengamatan perilaku terhadap kelompok yang rentan tertular HIV/ AIDS dari Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) UI. Dalam hal ini kelompok pekerja seks komersial (PSK) yang sekarang mengalami pergantian nama menjadi wanita pekerja seks (WPS). 2 lokalisasi yang kebetulan menjadi jatah saya adalah Rawa Malang dan Kali Jodo. 


Ada perbedaan signifikan antara kedua lokalisasi tersebut. Rawa Malang terletak di lokasi terpencil yang jauh dari pemukiman penduduk di pinggir area persawahan, terdiri dari bar-bar kecil yang menyatu dengan kamar-kamar kos. PSK/ WPS penghuninya sudah lebih berumur dan pengalaman sehingga pengetahuannya tentang infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/ AIDS cukup mumpuni. Sekilas dari wawancara kualitatif dapat disimpulkan mereka telah mempraktekkan upaya-upaya pencegahan yang tepat terkait IMS dan HIV/ AIDS. Pelanggan yang datang pun memiliki kesadaran yang tinggi untuk menggunakan kondom. 


Tapi berbeda dengan lokalisasi Kalijodo yang terlihat kumuh di sepanjang pinggir kali Angke dan Banjir Kanal Timur. Di sini bisa di bilang lokasi maksiat terpadu, karena juga tersedia berbagai sarana judi ilegal. Parahnya, lokasi ini justru membaur dengan pemukiman. PSK/ WPS di sini umurnya sangat muda, bisa dibilang belia, bahkan ada yang tidak/ belum lulus SMP. Dan, yang memprihatinkan mereka sebelumnya tidak tahu kalau harus bekerja sebagai PSK/ WPS. Sehingga, mereka tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang IMS dan HIV/ AIDS. Mereka justru bergantung pada mitos-mitos yang selama ini beredar dan justru tidak benar. Miris! 


Remaja-remaja tanggung ini tidak bisa membedakan antara HIV/ AIDS dengan IMS. “Sama saja, pak. Yang penting kita harus pilih-pilih orangnya. Cari yang ganteng, rapi, wangi. Otomatis bebas penyakit dan pastinya banyak duit” kata salah satu dari mereka yang disambut derai tawa. “Yang penting rutin minum antibiotik pak tiap hari” ada lagi yang bicara. Kemudian ditimpali “Atau minum jamu!”. Padahal, kita tidak dapat menilai seseorang itu HIV/ AIDS dari penampilannya. Karena ODHA bisa saja terlihat sehat dalam jangka waktu lama. Ketampanan, Kerapihan dan Aroma Tubuh tidak bisa dijadikan acuan kesehatan seseorang. Memang penyakit kelamin bisa terlihat, tapi berbeda dengan HIV/ AIDS. HIV/ AIDS itu tidak bisa dicegah dengan minum jamu, antibiotik atau alkohol baik sebelum dan sesudah berhubungan seks. 


Saat pertanyaan terakhir saya ajukan, jawabannya pun masih mengecewakan. Apakah kalian menggunakan kondom saat berhubungan dengan pelanggan? “Tamu nggak mau pakai kondom, pak” celetuk seseorang. “Katanya kalau pakai kondom nggak enak!” tambah yang lain. “Kalau tamu diminta pakai kondom nanti kabur ke cewek lain“ ada lagi yang bicara. “Yang penting kan perabotnya dicuci bersih pak kalau sudah selesai. Pakai sabun atau air sirih”. Astaga! Akhirnya aku jelaskan bahwa kondom itu sangat penting sebagai upaya pencegahan penularan HIV/ AIDS. Karena HIV/ AIDS dapat menular melalui cairan organ intim baik pria maupun wanita saat berhubungan seks normal, anal ataupun oral. Menyikat gigi, berkumur dengan antiseptik dan mencuci organ intim dengan sabun atau sirih tidak menjadikan virus HIV/ AIDS mati atau pergi setelah kita tertular. 


Setelah penjelasan singkat saya itu, beberapa remaja PSK/ WPS itu mulai mengerti dan memahami kekeliruannya selama ini. Saya tegaskan pada mereka, kalau masih percaya dengan mitos-mitos keliru itu, maka HIV/ AIDS tak bisa dicegah! Tapi sikap bijak untuk meminta dan mengajak pelanggan menggunakan kondom lah kita dapat menekan penyebaran virus HIV/ AIDS. Mereka mengangguk, entah pertanda mengerti atau masih dalam kebingungan. Mengingat mereka masih remaja dan pasti sedang gundah sekarang setelah mengetahui fakta sebenarnya. Dan, akhirnya saat pulang tiba dan saya mengucapkan salam perpisahan “Kenakan Kondom atau Kena!”

Sabtu, 19 November 2011

Semua Berawal dari Facebook

Salah satu situs jejaring sosial online paling terkenal di Indonesia, Facebook kini mulai beralih fungsi. Dari sekedar situs pertemanan dan bisnis menjadi ajang prostitusi anak baru gede (ABG). Wow! Sudah tak terhitung berapa banyak kasus jaringan prostitusi remaja maupun anak di bawah umur menggunakan facebook yang berhasil diungkap kepolisian. Kenapa menggunakan facebook? Karena caranya sangat mudah dilakukan dan efektif. Para pelaku cukup memasang foto-foto ABG di dinding facebook dan tinggal memperbaharui status jika ada promosi yang ingin disampaikan. Pelanggan pun merasa aman karena tidak perlu berteman, cukup berlangganan maka informasi terbaru pun di dapatkan. Tapi, ini bukan salah Facebook, melainkan para anggotanya yang menyalah gunakan fasilitas facebook.


Para ABG secara sadar menjerumuskan dirinya kepada prostitusi terselubung tanpa menyadari bahayanya, apalagi mayoritas mereka masih di bawah umur. Mereka hanya berpikir pendek, punya wajah cantik dan tubuh seksi yang dapat ditukar uang ratusan ribu rupiah. Mereka tidak berpikir dampak buruknya terhadap mereka, terutama infeksi menular seksual (IMS) dan terjangkit HIV/ AIDS. Menurut saya, ada beberapa aspek yang melandasi mereka sedemikian nekatnya menukar anugerah Tuhan yang berharga dengan materi yang sifatnya hanya sementara.


Pertama, pola pikir materialisme masyarakat Indonesia, dimana orang dihargai berdasarkan berapa banyak uang dan barang yang dimiliki. Ini diperparah dengan bombardir media massa yang memberi suguhan sinetron melankolis menularkan gaya hidup hedon dan majalah-majalah yang menawarkan mimpi-mimpi kosong lewat berbagai lomba, kontes dan festival. Sehingga, sadar atau tidak dalam diri mereka mulai tertanam bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih oleh uang, uang dan uang. Dengan uang bisa mendapatkan apa saja dan diperhatikan siapa saja.


Kedua, ABG masih labil! Tak jarang kita dengar istilah Ababil, akronim dari ABG agak labil. Tapi memang demikian kenyataannya, perkembangan fisik, emosi dan sosialnya masih belum sempurna. Remaja-remaja tanggung ini masih dalam masa transisi, jati dirinya belum terbentuk dengan sempurna. Mereka merasa identitas dirinya sempurna bila teman-temannya sudah menghargai keberadaannya. Nah, hal itu baru muncul biasanya kalau mereka sudah memiliki ponsel canggih keluaran terbaru, pakaian bermerk dan aksesoris gaul yang mewah dan lengkap. Akhirnya mereka berpikir bagaimana cara mendapatkannya dengan instan tanpa harus bersusah payah.


Ketiga, mereka terbawa arus pertemanan. Dalam arti, mereka lebih mendengarkan dan meyakini apa yang dikatakan teman-teman sebayanya. Bahkan, kalau hal itu hal buruk sekalipun. Sehingga, bila salah berteman maka para remaja ini dapat terjerumus ke praktek pelacuran ini tanpa bisa keluar lagi. Karena, mereka takkan mau mendengarkan nasehat orang tua dan keluarganya karena mereka tak mampu menolak pengaruh kelompok bermainnya.


Terakhir, kegagalan menanamkan etika dan akhlak. Etika sejatinya perwujudan kearifan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan Akhlak adalah perwujudan nilai-nilai luhur agama. Keluarga lah yang bertugas menanamkan keduanya sebagai pondasi awal sebelum seorang anak beranjak remaja dan mulai keluar dari rumah. Kegagalan membangun pondasi menyebabkan ABG menganut nilai permisif dan liberal. Nilai-nilai baru dari kawan-kawannya yang lebih mudah dicerna langsung dijadikan cara pandang baru tanpa pertimbangan masak. 


Akhirnya, para ABG baik pria maupun wanita banyak yang terjerumus dalam praktek prostitusi yang berujung pada penyebaran IMS dan HIV/ AIDS. Dalam otak mereka lagi-lagi hanya uang, uang dan uang. Tidak pernah mereka berpikir bahwa mereka bisa tertular kencing nanah, raja singa, herpes dan klamidia dari para pelanggannya. Kenyataan terburuk yang mereka terima adalah jika ada pelanggan yang positif HIV/ AIDS dan memintanya melakukan hubungan seksual tanpa kondom. Maka tertularlah ia semata karena ketidak tahuannya. Dan dari keawamannya itu dia pun kembali menularkannya kepada orang lain. Inilah awal dari besarnya jumlah remaja ODHA, dimana sekitar 70% ODHA adalah remaja.


Demi kekayaan dan kenikmatan sesaat mau menukarkan kesehatannya. Sungguh, bukan pilihan yang tepat! Bermula dari facebook terjerumus gaya hidup bebas dan tertular HIV/ AIDS. Memang cita-cita mereka tercapai, tapi batin mereka tersiksa seumur hidup. Di sinilah pentingnya kita sebagai sesama anak bangsa menunjukkan kepedulian kita. Bukan melulu sibuk bagaimana sikap kita terhadap ODHA, tapi justru memberikan pendidikan seks yang benar sehingga remaja menjadi lebih paham. Sehingga mereka bisa terhindar dari perilaku seks bebas dan dapat terhindar dari HIV/ AIDS. 


Tugas mulia untuk memberikan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) ini bukan hanya kewajiban instansi, departemen, lembaga dan organisasi tertentu. Jangan pernah bergantung pada seseorang atau badan yang belum tentu memiliki komitmen kuat dalam hal ini. Anggaplah ini kewajiban kita bersama terhadap para generasi penerus. Tidak sulit, karena kita bisa mulai dari diri kita sendiri dan sekarang juga. Mulailah dari keluarga kita, terutama adik-adik dan anak-anak kita yang baru beranjak remaja. Tanamkan nilai-nilai luhur Pancasila dan agama masing-masing. Niscaya, Indonesia yang bebas penularan HIV/ AIDS di tahun 2015 pun akan tercapai. Bersama Kita Bisa!
 

Senin, 14 November 2011

Balada Mami Vin dan KEBAYAnya

Wanita pria (Waria), Wanita Adam (Wadam), Banci, Bencong atau apapun nama dan julukannya adalah salah satu fakta yang tak dapat dihindari lagi keberadaannya di Indonesia ini. Kaum transgender atau para pria yang merubah penampilannya seperti wanita tersebut ada di sekitar kita. Mereka makan, minum dan beraktivitas sebagaimana manusia lainnya. Tidak ada perbedaan mencolok dalam keseharian mereka kecuali tentu perilaku dan penampilannya saja.

Di Indonesia eksistensi mereka masih belum sepenuhnya diakui. Masih ada diskriminasi di kalangan masyarakat, terlebih bila mereka adalah orang dengan HIV/ AIDS (ODHA). Tak banyak yang dapat pemerintah lakukan, apalagi waria masih ambigu dalam hal jenis kelamin. Rata-rata perlindungan dan pengayoman justru dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kelompok-kelompok sebaya. Salah satunya adalah LSM Kebaya di Yogyakarta.

Loh, koq Kebaya? Iya! Kebaya adalah akronim dari Keluarga Besar Waria Yogyakarta. LSM yang berlokasi di Jl. Gowongan Lor Yogyakarta ini mengayomi para waria, khususnya mereka yang termasuk ODHA. LSM ini digawangi oleh Vinolia Wakijo, waria senior yang biasa dipanggil Mami Vin. Pembawaannya yang bijak memberi kenyamanan bagi para waria di Yogyakarta. Sedangkan pembawaannya yang luwes dan mudah bergaul membawanya dekat dengan seluruh lapisan masyarakat. Perpaduan ini sangat membantu usahanya memperjuangkan posisi waria yang setara dengan jenis kelamin lainnya.

Tidak banyak pihak yang melakukan pendampingan berkelanjutan seperti apa yang sudah dilakukan Mami Vin dengan Kebaya-nya. Padahal prevalensi HIV/AIDS di kalangan waria cukup tinggi, karena posisi tawar mereka sangat rendah. Mengingat selama ini, waria menjadi obyek seksual laki-laki biseksual dan tidak pernah setia pada satu pasangan. Kalaupun setia dengan satu pasangan, pasangannya pasti enggan bila diminta untuk menggunakan kondom. Padahal, kondom adalah satu-satunya solusi aman dalam menekan penyebaran virus HIV/AIDS.

Dengan adanya Kebaya ini, para waria bisa mendapatkan informasi yang lebih tepat dan lengkap tentang HIV/AIDS. Mereka dibimbing untuk melakukan Voluntary Counseling & Testing (VCT) dan pemeriksaan lain yang dibutuhkan secara rutin. Sehingga perkembangan kondisi kesehatannya terpantau. Kebaya juga memberikan konseling dan advokasi kepada para waria yang memerlukan. Sulit, tapi memang harus dimulai dan upaya ini sudah dirintis oleh Mami Vin. Kebaya menjadi rumah yang nyaman, tidak hanya untuk para waria tapi juga ODHA laki-laki maupun perempuan.

Semoga saja semakin banyak LSM dan kelompok sebaya yang memiliki program-program jelas dalam menekan penyebaran HIV/AIDS, mengayomi para ODHA dan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Sehingga, harapan hidup ODHA lebih tinggi karena mendapat pendampingan yang tepat. Selain itu masyarakat juga dapat lebih berhati-hati terhadap perilaku seksualnya, terutama yang menyimpang. Dan muara akhirnya seluruh bangsa Indonesia dapat sehat lahir bathin. Terima kasih Mami Vin, Terima kasih Kebaya!


Belajar dari tingginya Kasus HIV/ AIDS di Bekasi


Kaget rasanya ketika membaca berita di sebuah laman internet bahwa 3 kecamatan di kota Bekasi menjadi daerah rawan penyebaran virus HIV/ AIDS. What? Kota industri yang menjadi satelit Jakarta ini? Tak jauh dari tempat tinggal istri dan orang tuaku di Tanjung Priok, Jakarta Utara... Wow! 3 kecamatan itu adalah Jatisampurna, Jatikarya dan Bantargebang. Apa yang ada dalam benak anda setelah mengetahuinya? Saya sendiri miris terhadap fakta ini, mengingat jaraknya dengan Jakarta, harusnya hal ini harus cepat diketahui dan tertanggulangi.

Menurut data yang dimiliki lembaga swadaya masyarakat (LSM) Mitra Sehati, Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) di Bekasi hingga akhir tahun lalu sudah ratusan kasus. Dengan rincian 568 kasus HIV dan 664 kasus AIDS. Sebuah jumlah yang tidak sedikit untuk kota yang sedang berkembang, menjadi bagian besar megapolitan. Apalagi selama ini kita mengenal Bekasi sebagai Kota Patriot, kotanya para pahlawan sebagaimana tersebut dalam puisi legendaris Chairil Anwar “Kerawang-Bekasi”.

Apa pemicunya? Ternyata di 3 kecamatan ini dipenuhi tempat-tempat hiburan yang berbau esek-esek, seperti panti pijat, diskotek, karaoke, kafe-kafe dan beberapa lokalisasi terselubung. Belum lagi para pekerja seks komersial (PSK) yang berkeliaran di tempat-tempat yang remang-remang, salah satunya di seputar Stadion Patriot-Bekasi. Semakin lengkap saja karena pemerintah daerah (pemda) sepertinya menutup mata dan membiarkan semua ini terjadi. Mungkin hanya beberapa LSM saja yang peduli, upayanya pun berkisar hanya pada pemberian kondom dan jarum suntik cuma-cuma dan konsultasi gratis.

Padahal, itu saja belum cukup karena hanya menyentuh puncak gunung es permasalahan saja. Sedangkan bagian bawahnya masih perlu banyak perhatian. Apalagi, tempat-tempat hiburan berbau esek-esek tersebut tak jauh dari pemukiman warga, kalau tak mau dibilang hampir membaur dengan mereka. Bisakah anda bayangkan berapa banyak anak-anak dan remaja, baik laki-laki maupun perempuan generasi penerus bangsa yang akan ikut teracuni pikiran dan perilakunya?

Inilah dampak dari pemerintah hanya fokus pada pembangunan fisik semata dan mengesampingkan pembangunan mental. Pemda berpikir kota Bekasi sudah makmur sejahtera hanya dengan melihat jalan-jalan raya yang mulus, mal dan perkantoran berdiri megah, perumahan yang bermunculan bak jamur di musim hujan dan pendapatan asli daerah (PAD) yang semakin meningkat. Sementara, ada bahaya laten dan bom waktu berupa kerusakan moral bernama HIV/AIDS. Semata, disebabkan kurangnya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tepat dan terarah bagi warga Bekasi khususnya anak-anak dan remaja.

Seyogyanya keluarga sebagai titik awal pendidikan individu bekerja sama dengan pemda dan LSM dalam memberikan pemahaman yang baik dan benar tentang bahaya dari perilaku seks bebas yang mulai mewabah dan apa dampaknya bagi masa depan bagi mereka generasi penerus. Bentuknya bisa berupa penyuluhan, musik, komik, film maupun kegiatan positif bermanfaat lainnya. Pemda juga harus membuat aturan yang ketat dan menyuluh sehingga berbagai bentuk prostitusi terselubung dapat diberantas. Bekerja sama dengan LSM, memberikan pendampingan dan pelayanan kesehatan yang memadai bagi para pengidap. Harapannya, ke depan kota Bekasi akan dapat terbebas dari penyebaran HIV/ AIDS. Semoga!
 


Minggu, 13 November 2011

Hidup dan Empati dengan ODHA di Sekitar Kita

Kali ini saya tidak bercerita detil tentang lokasi wisata dan makanan atau minuman enak. Saya tetap pergi ke sebuah kota, tapi bukan untuk jalan-jalan dan wisata kuliner. Tapi untuk menghadiri Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS di Yogyakarta pada awal Oktober yang lalu. Dalam sebuah sesi, pemateri memberikan 3 pertanyaan menarik yang membuat semua hadirin tersentak. Pertanyaan-pertanyaan sederhana namun merubah perspektif kami semua tentang ODHA (orang yang hidup dengan HIV/ AIDS). 


Pertanyaan pertama, adalah: “Jika tiba-tiba ada orang yang tidak anda kenal mendatangi anda dan mengatakan saya adalah ODHA, apa tanggapan anda?”. Sontak ruangan menjadi ramai, semua orang mengemukakan pendapatnya silih berganti. Ada yang bilang merasa bingung, acuh tak acuh, marah, pergi begitu saja dan banyak lagi. Kesimpulannya, mayoritas hadirin merasa tak peduli dan tak menganggap hal itu adalah urusannya. Jawaban saya sendiri merupakan keingin tahuan terhadap orang tersebut sehingga saya akan bertanya “Kenapa anda menjadi ODHA?” Pemateri hanya tersenyum. 


Pertanyaan berikutnya, “Jika pada suatu hari orang yang anda cintai (bisa pacar, suami, istri, orang tua, anak, adik, kakak dan keluarga) mengatakan bahwa mereka adalah ODHA, apa tanggapan anda?”. Kini ruangan begitu bergemuruh, hampir semua hadirin bersuara lantang. Ada yang bilang pasung, kucilkan, marahi, jangan akui sebagai keluarga hingga yang paling menyakitkan usir atau ceraikan. Jawaban saya sendiri adalah memeluknya, memintanya duduk dan mengambilkan segelas air putih sambil menunggu dengan sabar apalagi hal yang akan diceritakannya. Pemateri lagi-lagi hanya tersenyum.


Pertanyaan terakhir, “Jika anda mengidap HIV positif/ AIDS dan anda harus mengakui kalau anda ODHA kepada orang yang anda cintai (bisa pacar, suami, istri, orang tua, anak, adik, kakak dan keluarga), apa tanggapan yang anda harapkan?”. Kini ruangan berubah menjadi lebih sunyi, hanya sedikit orang yang mengeluarkan pendapat. Mereka ingin tetap dipeluk, disayang, dicintai, diperhatikan dan diyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Itupun dengan terbata-bata. Mereka tidak menyangka kalau pertanyaan terakhir akan seperti ini. What a Shock Therapy! Air muka mereka pun sebagian besar berubah. Pemateri dengan tetap tersenyum memecah kesunyian dengan pertanyaan “Kenapa jawabannya berbeda?


Setelah hening beberapa saat pemateri kembali berkata yang menenangkan, memberikan penjelasan bahwa selama ini perspektif hampir seluruh masyarakat Indonesia masih keliru (kalau tak mau dibilang salah) tentang ODHA. Ini dibuktikan dengan beragam jawaban terhadap pertanyaan pertama dan kedua. Seperti itulah pola pikir yang berkembang hingga saat ini. Hampir semuanya negatif. Sedangkan jawaban pada pertanyaan terakhir lah yang ideal. Jawaban seperti itu lah yang diharapkan oleh para ODHA keluar dari mulut kita. 


Karena menurut hemat saya, untuk menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap HIV positif/ AIDS saja sudah sangat berat bagi para ODHA. Apalagi, mereka harus mengakuinya di hadapan orang lain, meskipun itu adalah orang-orang terdekatnya. Sulit untuk memiliki keberanian seperti ini, kepercayaan diri untuk bicara jujur tentang kondisi buruk kita kepada orang lain. Meskipun memang, yang menyebabkan mereka menjadi ODHA tidak melulu hal buruk, seperti Narkoba dan Seks Bebas. Sehingga bahkan orang tak berdosa pun ada kemungkinan terjangkit HIV/ AIDS. Dari orang tua kepada anak, misalnya. 


Sebagaimana kita ketahui bersama, HIV/ AIDS juga dapat menular melalui benda-benda yang tercemar oleh darah yang mengandung virus HIV, seperti jarum suntik, gunting, silet, pisau cukur. Sehingga bila tidak steril HIV bisa ditularkan di salon kecantikan, tempat membuat tatto dan piercing bahkan rumah sakit. Karena, HIV pun bisa ditularkan melalui transfusi darah. Inilah yang terkadang belum kita ketahui dan pahami. Entah karena komunikasi, informasi dan edukasi yang kurang dari pihak-pihak yang kompeten atau memang kita yang terkadang tidak mau membuka mata, hati dan pikiran kita. Pertanyaannya, siapa yang menjamin kita akan bebas dari virus ini? 


Sahabat, karenanya kita harus memiliki empati yang tinggi terhadap para ODHA. Mereka adalah saudara, sahabat atau bahkan keluarga kita. Empati berarti mencoba merasakan hal yang sama dengan apa yang mereka rasakan. Memperlakukan sebagaimana diperlakukan. Bila para ODHA mau dan mampu membuka jati dirinya, kini sebaliknya tanggung jawab kita menjawabnya dengan kepedulian, perhatian dan kasih sayang. Bukan justru dengan hujatan, hinaan dan caci maki. Bukalah tangan kita! Marilah membuat diri kita lebih berarti bagi mereka, sebagaimana mereka mencoba mengisi sisa-sisa hari mereka dengan hal-hal bermakna.

Senin, 07 November 2011

Bila Istri/ Pasangan Anda Adalah ODHA

Sebagai seorang pria, setelah kita mengucapkan akad nikah, maka telah sah lah wanita pujaan hati kita menjadi istri sehidup semati. Tiada satu pun yang dapat memisahkan, bahkan maut sekalipun. Apalagi bila kita baca secara seksama di belakang Buku Nikah, bagian Sighat Taklik. Di lembar yang telah kita tanda tangani ini kita berjanji dengan sesungguh hati akan menepati kewajiban sebagai seorang suami dan mempergauli istri dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) sesuai syariat Islam. Tapi bagaimana bila tiba-tiba kita tahu kalau istri kita adalah orang dengan HIV/ AIDS (ODHA)? Apa yang akan anda lakukan? Apakah akan tetap menepati janji atau justru menjilat ludah sendiri? 


Pasti bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena sejak remaja, bahkan mulai anak-anak kita sudah menerima informasi turun temurun yang keliru tentang HIV/ AIDS. Virus atau penyakit ini dianggap kutukan Tuhan kepada hamba-hamba yang berdosa. Sehingga sampai saat ini pun masih banyak di antara kita yang merasa jijik bila bertemu ODHA. Karena HIV/ AIDS dianggap hanya bisa menular lewat hubungan seks, baik dengan lawan jenis maupun sejenis. Tak pernah terpikir kalau HIV/ AIDS pun dapat ditularkan melalui transfusi darah, penggunaan peralatan yang tidak steril secara bersama-sama hingga penularan ibu kepada anaknya. 


Semakin sulit dijawab karena yang timbul di benak kita adalah negative thinking. Jangan-jangan istri kita ini tidak sesuci yang dibayangkan, berperilaku seks bebas atau pengguna narkoba aktif. Stop! Jangan dilanjutkan praduga buruk itu. Pengakuan tulus ikhlas dari pasangan kita itu sudah merupakan sebuah pengorbanan besar. Semuanya tinggal bergantung pada kita, apakah mampu menjawabnya dengan tanggung jawab tinggi? Dia adalah satu-satunya orang yang kita kasihi dan sayangi. Dan ingat, pernikahan bukanlah menyatukan dua orang yang sama-sama sempurna tapi perpaduan dua sosok yang saling mengisi dengan cinta sehingga hidup ini dijalani dengan sempurna. 


Lalu, apa yang harus kita lakukan bila ternyata istri atau pasangan kita adalah ODHA? Banyak! Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan, mengingat dengan pendampingan yang baik, maka ODHA pun dapat mempunyai harapan hidup yang sama dengan kita. Pertama, Jadi diri kita sendiri, apa adanya dan jangan berubah! Ini penting sebagai bentuk dukungan moril awal kepadanya. Tetaplah menatapnya dengan senyum, menciumnya dengan hangat dan memeluknya dengan mesra. Seakan tak ada apapun yang terjadi. 


Kedua, beri dukungan berkelanjutan. Temani saat-saat dia harus konsultasi dan berkunjung ke dokter untuk konsultasi. Ingatkan waktu makan dan minum obat. Jangan bicarakan masa lalunya, apalagi bertanya kenapa dia bisa menjadi ODHA. Kecuali jika dia cerita sendiri tanpa paksaan. Luangkan waktu berkualitas sesering mungkin untuk jalan-jalan, wisata alam atau sekedar pergi ke Mal untuk meringankan beban pikirannya. 


Berikutnya, Lakukan tes Voluntary Counseling and Test (VCT) untuk mengetahui kondisi anda apakah sudah terinfeksi atau belum. Ini penting, karena anda dapat merencanakan masa depan dengan lebih baik, terutama tentang memiliki keturunan, perencanaan keuangan hingga menyusun jadwal kebersamaan dengannya. Keempat, bila hasil VCT anda negatif, anda harus mulai berpikir untuk menggunakan kondom saat berhubungan dengannya. Tidak perlu takut sehingga anda memutuskan untuk tidak menggaulinya. Untuk keputusan memiliki anak, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu dengan dokter yang berkompeten. 


Terakhir, gali informasi sebanyak mungkin tentang HIV/ AIDS, ODHA dan kelompok sebaya dari sumber-sumber terpercaya. Jangan segan dan malu untuk bertanya sehingga semuanya menjadi jelas. Kelompok sebaya juga menjadi tempat yang tepat untuk bertukar pikiran, karena pengalaman mereka menangani sesama ODHA dengan penguatan mental dan psikologis. Sehingga anda dapat memastikan dukungan yang tepat bagi kekasih. 


Ya, bicara tentang ODHA bukan bicara pesimistis bahwa belum ada obatnya, ajalnya sudah dekat atau kurangnya perhatian pemerintah. Tapi, bicara ODHA, apalagi bila ini terkait pasangan kita, adalah penguatan hati dan keteguhan jiwa: Optimis! Yang terpenting adalah perubahan sikap dan perilaku, dari acuh tak acuh menjadi peduli, dari cinta menjadi semakin cinta dan bukan justru sebaliknya. Karena, kita, kasih sayang kita dan doa kita lah obat terbaik untuknya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...