Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label oleh-oleh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oleh-oleh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Gudeg Kalengan Kreasi Bu Tjitro

Makan. Berbahagialah para penggemar gudeg karena sekarang makanan khas Jogjakarta ini tampil dalam kemasan kaleng yang lebih praktis. Gudeg koq kalengan? Iya, unik khan? Jangan ragu dan kuatir tentang rasanya! Gudeg kalengan ini dijamin lezat dan gurih ditambah sudah mengantongi sertifikat halal dari LPPOM MUI. Ini dipelopori oleh Gudeg Bu Tjitro, salah satu penjual gudeg terkenal sejak tahun 1925 yang berlokasi di jalan Janti no.330, Jogjakarta. Gudeg Bu Tjitro tidak hanya digemari oleh orang Jogja dan turis lokal saja tapi juga wisatawan mancanegara. 


Nah, Ide ini diawali dari kurang praktisnya gudeg kendil untuk dibawa jauh sebagai oleh-oleh. Bayangkan kalau andas harus bawa-bawa kendil di kereta atau bahkan di pesawat, repot khan? Karenanya Bu tjitro memikirkan kemasan lain yang lebih praktis, mudah dibawa dan tahan lama. Maka muncullah gudeg kalengan! Harapannya dapat menjadi alternatif baru oleh-oleh khas Jogjakarta dan juga dapat merambah pasar mancanegara. Isinya sama dengan gudeg yang dijajakan di warung dan rumah makan, terdiri dari gudeg dengan santan kental, telor bebek, suwiran daging ayam dan krecek. Sekaleng dapat dihidangkan untuk 2 orang. 


Walaupun tanpa bahan pengawet dan msg, gudeng kalengan bisa bertahan sampai setahun. Harganya pun cukup terjangkau, hanya Rp. 25.000,- per kaleng. Anda semua penggemar wisata kuliner nusantara dapat memesan dan membelinya di cabang-cabang Bu Tjitro di seluruh Indonesia. Sekarang, anda juga bisa memesannya secara online. Yang luar biasa, gudeg kalengan ini juga sudah diekspor ke Asia, Timur Tengah dan Eropa. Jadi sekarang, anda bisa menikmati gudeg kapanpun dimanapun! Tanpa perlu ke Jogja, tanpa perlu ke Malioboro.

Kamis, 27 Oktober 2011

Oleh-oleh Haji di Tanah Abang

Main. Oleh-oleh dari Tanah Suci untuk keluarga tercinta maupun tetangga di Tanah Air, tak melulu harus langsung dibawa dari Mekkah. Kerabat jemaah haji kini bisa membeli oleh-oleh dari Tanah Suci langsung di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Harga tak jauh beda, lengkap, praktis dan tak merepotkan. Penganan dari Mekkah seperti kurma misalnya, jumlahnya sangat banyak di Pasar Tanah Abang. Buah yang dalam bahasa Arab disebut Tamar ini tersedia sepanjang tahun di Pasar Tanah Abang, apalagi pada musim haji seperti ini. Air zam-zam pun tersedia di sana, termasuk minyak zaitun, bubuk pacar dan sipat untuk penebal kelopak mata. Minyak wangi yang beraroma khas Tanah Suci pun ada. 


Barang di Pasar Tanah Abang, khususnya yang dijajakan para pedagang di Jl. K.H. Mas Mansyur diperoleh dari importir dengan jenis barang yang sama seperti yang dijajakan di pasar-pasar Arab Saudi, seperti di Jeddah, Mekkah maupun Madinah. Dengan demikian para jemaah haji dapat fokus beribadah, tak perlu cemas memikirkan buah tangan yang akan dibawa. Dengan khusyuk maka haji mabrur pun dapat diraih. Pulang dengan selamat dan cukup berbelanja di Tanah Abang. Labbaik Allaahumma Labbaik.

Minggu, 09 Oktober 2011

Pia-pia; Cara Lain Menikmati Bakpia Jogja

Makan. Beberapa hari kemarin, istriku Merry Samsuri (Merry) dikirim dinas kantornya Family Health International (FHI) 360 ke Jogjakarta untuk menghadiri dan mengikuti Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS 2011. Pulangnya, aku sendiri mendapat sekotak bakpia dengan merk Pia-pia. Dari 3 pilihan rasa; orisinil, keju dan coklat, aku mendapatkan yang pertama. Sekotak berisi 15 bakpia besar yang renyah dengan rasa manisnya terasa pas di lidah. Pia-pia sendiri adalah cara lain menikmati bakpia jogja yang umumnya berbentuk lebih kecil dan berpusat di daerah Pathuk. Semua bakpia diberi merk sesuai nomor rumah produsen masing-masing. Pia-pia sendiri bisa dibeli sebagai oleh-oleh di daerah Kaliurang.


Bila kita melihat sejarah, sebenarnya bakpia bukanlah penganan asli. Bakpia, awalnya adalah kudapan khas Tiongkok berupa kue daging. Kata bakpia berasal dari dialek Hokkien bak yang berarti daging babi dan pia yang berarti kue. Karena masyarakat Jogja umumnya umat Islam, maka isian daging babi dalam kue diganti dengan kacang hijau. Lalu rasanya semakin berkembang dan inovatif, seperti kumbu hitam, coklat dan keju. Berawal dari situ pula, Pia-pia menanggalkan kata bak yang konotasinya negatif dan mengulang kata pia, sehingga memiliki arti kue-kue.

Senin, 03 Januari 2011

Oleh-oleh Gudeg Kendhil dari Adem Ayem

Makan. Gudeg memang identik dengan Yogyakarta. Namun, bagi Wong Solo gudeg Yogya dianggap terlalu manis. Dengan mengurangi rasa manisnya, lambat laun orang-orang Solo mulai menyukainya. Nah, gudeg seperti itu lah yang ditawarkan rumah makan (RM) Adem Ayem. RM Adem Ayem sendiri terletak di Jl. Percetakan Negara C640, sementara cabangnya di Jl. AM Sangadji 27.


Selain menawarkan gudeg sebagai santapan, RM Adem Ayem juga terkenal dengan Gudeg Kendhil, oleh-oleh gudeg yang sangat diminati para tamu karena dapat dibawa pulang dan tahan selama 24 jam. Gudeg Kendhil adalah gudeg komplet terdiri dari gudeg, krecek (kerupuk kulit sapi yang dibasahi bumbu), sambal goreng, kacang tolo, telur itik, tempe bacem dan opor ayem dengan areh (santan kental). Gudeg ini dibungkus dalam wadah tanah liat agar rasanya tetap sama.


Jadi, bila anda berada di daerah Rawasari, sempatkan untuk mampir ke restoran yang sudah berdiri sejak 20 tahun lebih yang lalu ini. Nikmati kelezatan rasa gudeg Solonya dan bawa Gudeg Kendhil sebagai oleh-oleh. Dijamin puas!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...