Main. Saat ini Pulau Derawan ibarat ikon baru wisata bahari Indonesia yang terletak di Berau, Kalimantan Timur. Ketenarannya sebagai destinasi para wisatawan tidak hanya di Nusantara tapi juga di Mancanegara. Kurang lengkap rasanya bila sedang di Borneo tapi tidak menginjakkan kaki disana. Pantainya yang cantik dengan hamparan pasir putih yang bersih benar-benar mempesona. Walaupun saya sendiri, Achmad Annama (Anam) meskipun sudah hampir 2 tahun tinggal di Balikpapan tapi belum pernah ke sana, he7x...
Namun kini, masyarakat mulai waswas dan kuatir para turis akan kecewa melihat kondisi terkini Derawan. Kecantikannya perlahan mulai memudar! Pasirnya mulai kusam, sampah-sampah mulai tampak di sana-sini dan yang paling parah adalah bermunculannya berbagai bangunan modern yang berdiri angkuh mengambil sebagian besar area pantai dan menutupi keindahannya. Sungguh tak sedap dipandang mata, karena bila turis menginginkan bangunan-bangunan modern mereka takkan berkunjung ke Derawan. Mereka dapat menikmatinya di Balikpapan atau bahkan Makassar dan Jakarta. Wisatawan justru ingin menikmati keindahan Derawan yang alami dan unik.
Para operator dan pengusaha pariwisata tidak menyadari dan memahami apa sebenarnya yang diinginkan dan diperlukan pengunjung. Bukan hotel bertingkat, klub mewah atau berbagai fasilitas mutakhir lainnya. Yang mereka butuhkan justru keasrian dan keaslian Derawan. Nilai jualnya justru terletak pada keanggunan pantai pasir putihnya, keindahan terumbu-terumbu karangnya dan keaneka ragaman biota lautnya. Kalau pembangunan fisik yang diutamakan, maka Derawan tak ubahnya pantai biasa saja! Justru berat bersaing dengan Bunaken, Benoa, Mentawai dan Raja Ampat. Orang takkan ada lagi yang mau menyaksikan kecantikannya yang palsu.
Namun kini, masyarakat mulai waswas dan kuatir para turis akan kecewa melihat kondisi terkini Derawan. Kecantikannya perlahan mulai memudar! Pasirnya mulai kusam, sampah-sampah mulai tampak di sana-sini dan yang paling parah adalah bermunculannya berbagai bangunan modern yang berdiri angkuh mengambil sebagian besar area pantai dan menutupi keindahannya. Sungguh tak sedap dipandang mata, karena bila turis menginginkan bangunan-bangunan modern mereka takkan berkunjung ke Derawan. Mereka dapat menikmatinya di Balikpapan atau bahkan Makassar dan Jakarta. Wisatawan justru ingin menikmati keindahan Derawan yang alami dan unik.
Para operator dan pengusaha pariwisata tidak menyadari dan memahami apa sebenarnya yang diinginkan dan diperlukan pengunjung. Bukan hotel bertingkat, klub mewah atau berbagai fasilitas mutakhir lainnya. Yang mereka butuhkan justru keasrian dan keaslian Derawan. Nilai jualnya justru terletak pada keanggunan pantai pasir putihnya, keindahan terumbu-terumbu karangnya dan keaneka ragaman biota lautnya. Kalau pembangunan fisik yang diutamakan, maka Derawan tak ubahnya pantai biasa saja! Justru berat bersaing dengan Bunaken, Benoa, Mentawai dan Raja Ampat. Orang takkan ada lagi yang mau menyaksikan kecantikannya yang palsu.

