Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Wisata Cari Jodoh ke Selaparang

Main. Makam Selaparang merupakan kompleks pemakaman raja-raja Selaparang berikut kerabatnya yang pernah memerintah di wilayah tersebut. Lokasinya berada di Lombok Timur, 65 km dari kota Mataram, sekitar sejam perjalanan darat. Sepanjang perjalanan, anda akan disuguhi hamparan sawah yang hijau dan pegunungan Rinjani yang mempesona. Setelah tiba anda akan disambut pepohonan yang lebat dan asri. Tiket masuknya hanya Rp. 5.000,- per orang. Sebelum masuk, perlu diingat bahwa anda harus berpakaian rapi dan sopan, melepas alas kaki dan tidak memotret/ merekam apapun. Perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang masuk ke areal makam.

Masuk ke area pemakaman anda akan melihat tatanan makam yang rapi dan sangat bersih. Di area ini terdapat tiga makam, yaitu makam Raja Selaparang, Makam Orang Tua Raja Selaparang dan Makam Panglima Gajah Mada. Di ketiga makam ini banyak wisatawan berhenti untuk menaburkan bunga atau sekedar membasuh muka dengan air yang telah mereka sediakan. Menurut kepercayaan para wisatawan dan masyarakat sekitar makam, membasuh muka di ketiga makam tersebut diyakini bisa meraih berkah dan mendapatkan jodoh bagi orang-orang yang masih lajang. Anda jomblo? Tertarik membuktikan mitos ini?

Kamis, 24 November 2011

(Dengan Mitos Keliru) AIDS Tak Dapat Dicegah

Kisah ini saya alami sekitar sepuluh tahun lalu, saat masih kuliah di program ekstensi (PE) Komunikas Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Kala itu saya bersama beberapa teman mendapat kesempatan untuk menjadi Koordinator Lapangan (Field Coordinator) untuk proyek Behaviour Surveillance Survey (BSS) – survei pengamatan perilaku terhadap kelompok yang rentan tertular HIV/ AIDS dari Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) UI. Dalam hal ini kelompok pekerja seks komersial (PSK) yang sekarang mengalami pergantian nama menjadi wanita pekerja seks (WPS). 2 lokalisasi yang kebetulan menjadi jatah saya adalah Rawa Malang dan Kali Jodo. 


Ada perbedaan signifikan antara kedua lokalisasi tersebut. Rawa Malang terletak di lokasi terpencil yang jauh dari pemukiman penduduk di pinggir area persawahan, terdiri dari bar-bar kecil yang menyatu dengan kamar-kamar kos. PSK/ WPS penghuninya sudah lebih berumur dan pengalaman sehingga pengetahuannya tentang infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/ AIDS cukup mumpuni. Sekilas dari wawancara kualitatif dapat disimpulkan mereka telah mempraktekkan upaya-upaya pencegahan yang tepat terkait IMS dan HIV/ AIDS. Pelanggan yang datang pun memiliki kesadaran yang tinggi untuk menggunakan kondom. 


Tapi berbeda dengan lokalisasi Kalijodo yang terlihat kumuh di sepanjang pinggir kali Angke dan Banjir Kanal Timur. Di sini bisa di bilang lokasi maksiat terpadu, karena juga tersedia berbagai sarana judi ilegal. Parahnya, lokasi ini justru membaur dengan pemukiman. PSK/ WPS di sini umurnya sangat muda, bisa dibilang belia, bahkan ada yang tidak/ belum lulus SMP. Dan, yang memprihatinkan mereka sebelumnya tidak tahu kalau harus bekerja sebagai PSK/ WPS. Sehingga, mereka tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang IMS dan HIV/ AIDS. Mereka justru bergantung pada mitos-mitos yang selama ini beredar dan justru tidak benar. Miris! 


Remaja-remaja tanggung ini tidak bisa membedakan antara HIV/ AIDS dengan IMS. “Sama saja, pak. Yang penting kita harus pilih-pilih orangnya. Cari yang ganteng, rapi, wangi. Otomatis bebas penyakit dan pastinya banyak duit” kata salah satu dari mereka yang disambut derai tawa. “Yang penting rutin minum antibiotik pak tiap hari” ada lagi yang bicara. Kemudian ditimpali “Atau minum jamu!”. Padahal, kita tidak dapat menilai seseorang itu HIV/ AIDS dari penampilannya. Karena ODHA bisa saja terlihat sehat dalam jangka waktu lama. Ketampanan, Kerapihan dan Aroma Tubuh tidak bisa dijadikan acuan kesehatan seseorang. Memang penyakit kelamin bisa terlihat, tapi berbeda dengan HIV/ AIDS. HIV/ AIDS itu tidak bisa dicegah dengan minum jamu, antibiotik atau alkohol baik sebelum dan sesudah berhubungan seks. 


Saat pertanyaan terakhir saya ajukan, jawabannya pun masih mengecewakan. Apakah kalian menggunakan kondom saat berhubungan dengan pelanggan? “Tamu nggak mau pakai kondom, pak” celetuk seseorang. “Katanya kalau pakai kondom nggak enak!” tambah yang lain. “Kalau tamu diminta pakai kondom nanti kabur ke cewek lain“ ada lagi yang bicara. “Yang penting kan perabotnya dicuci bersih pak kalau sudah selesai. Pakai sabun atau air sirih”. Astaga! Akhirnya aku jelaskan bahwa kondom itu sangat penting sebagai upaya pencegahan penularan HIV/ AIDS. Karena HIV/ AIDS dapat menular melalui cairan organ intim baik pria maupun wanita saat berhubungan seks normal, anal ataupun oral. Menyikat gigi, berkumur dengan antiseptik dan mencuci organ intim dengan sabun atau sirih tidak menjadikan virus HIV/ AIDS mati atau pergi setelah kita tertular. 


Setelah penjelasan singkat saya itu, beberapa remaja PSK/ WPS itu mulai mengerti dan memahami kekeliruannya selama ini. Saya tegaskan pada mereka, kalau masih percaya dengan mitos-mitos keliru itu, maka HIV/ AIDS tak bisa dicegah! Tapi sikap bijak untuk meminta dan mengajak pelanggan menggunakan kondom lah kita dapat menekan penyebaran virus HIV/ AIDS. Mereka mengangguk, entah pertanda mengerti atau masih dalam kebingungan. Mengingat mereka masih remaja dan pasti sedang gundah sekarang setelah mengetahui fakta sebenarnya. Dan, akhirnya saat pulang tiba dan saya mengucapkan salam perpisahan “Kenakan Kondom atau Kena!”

Minggu, 20 November 2011

Daya Tarik dan Mitos Pulau Ular di Bima Timur

Main. Ada sebuah pulau kecil di Desa Pai, kecamatan Wera Bima bagian timur, letaknya dekat sekali dengan daratan Pulau Sumbawa dan 2 destinasi wisata lain, yaitu pulau Gilibanta dan Tolowamba. Orang-orang Bima menyebutnya Pulau Ular, karena pulau ini hanya dihuni oleh sekelompok ular-ular jinak yang tidak mengganggu penduduk. Yang menarik sebenarnya bukan karena banyaknya ular atau tidak adanya manusia yang mau tinggal di pulau seluas 500 m2 ini, tapi lebih karena ular-ular ini unik, berbeda dengan ular lain di Bima. Kenapa? Karena ular-ular ini mencari makan di dalam laut dan beristirahat di atas pulau di celah-celah bebatuan dan bergelantungan di tebing-tebing terjal. Ini menjadi daya tarik tersendiri. 


Ular-ular berwarna hitam putih cerah itu sangat mempesona bila tertimpa cahaya matahari. Wisatawan sangat menyukai momen-momen menyaksikan pemandangan langka ini. Mereka tanpa ketakutan mengalungkan ular-ular besar ini di lehernya. Yang tak kalah aneh, bentuk ekor ular ini sudah pipih menyerupai ekor ikan. Para nelayan sering menemukannya masuk dalam jaring, namun segera dilepaskan karena mitos khusus terhadap ular tersebut. Ular ini tak bisa dibawa kemana-mana, karena akan selalu kembali ke habitatnya. Kalau tidak bisa kembali, dipercaya akan mendatangkan bencana bagi masyarakat Desa Pai. Karenanya, masyarakat desa sangat menjaga kelestarian satwa itu. 


Secara ilmiah ada 2 asumsi dugaan keberadaan ular itu. Pertama, ular-ular itu sama dengan ular-ular yang berada di daratan pulau-pulau pada umumnya. Tapi karena pulau itu mengalami abrasi komunitas tempat mereka tinggal sehingga mengalami evolusi. Asumsi kedua, ular-ular itu adalah Ular Laut yang sangat langka dan habitatnya hanya terdapat di Desa Pai Kecamatan Wera, Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat ini. Tapi anehnya, ular-ular itu melakukan pemijahan telur di pulau tersebut bukan di laut. Keberadaan ular ini, sangat menarik perhatian sehingga disarankan penelitian lebih lanjut. Masyarakat setempat justru menganggap komunitas ular yang populasinya hanya 700 ekor ini sebagai Ular Jadi-jadian yang menjaga pulau utama dari kedatangan penjajah. Pulau itu sendiri dianggap penjelmaan kapal Belanda.  


Sudah sepantasnya pemerintah daerah, khususnya dinas kebudayaan dan pariwisata menjadikan Pulau Ular Kabupaten Bima ini sebagai cagar alam yang mesti dilindungi dan didukung oleh berbagai kebijakan payung hukum untuk mendukung pelestarian dan promosinya sebagai salah satu destinasi wisata unik. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita siapa lagi? Anda ingin berkunjung ke sini? Cukup menempuh waktu sekitar 45 menit dari kota Bima dan dilanjutkan dengan perahu/ sampan yang disewakan warga setempat selama 15 menit.

Jumat, 09 September 2011

13 Mitos Mengemudi di Jalan Tol

Main. Mendengar berita tentang 2 kecelakaan beruntun di Tol Cipularang yang merenggut 6 nyawa manusia membuat hati terasa sakit. Apalagi kejadian ini ditanggapi dengan tidak logis. Selama ini terlalu banyak hal simpang siur yang kita percayai turun temurun begitu saja tanpa mengecek kebenarannya. Hasilnya? Kita lebih mempercayai mitos daripada fakta, bahkan kita sudah tidak bisa membedakan lagi mana mitos dan mana fakta. 

Sebagai seorang trainer, tentunya saya harus menyampaikan sesuatu berdasarkan fakta. Dan kali ini, mengacu pada materi keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Clinic (JDDC), saya akan membantu meluruskan mitos-mitos tersebut. JDDC sendiri adalah operator pelatihan keselamatan berkendara pertama dan satu-satunya di Indonesia. Berbekal itu, Alhamdulillah sampai saat ini saya sering pulang-pergi ke Bandung dengan tetap sehat wal afiat.

Berikut mitos-mitos terkait mengemudi di jalan tol disertai fakta yang akan meluruskannya:
1. Jalan tol adalah jalan bebas hambatan, pengemudi dapat melaju dengan aman;
MITOS! Faktanya:
Di jalan tol Cipularang terdapat banyak rintangan, diantaranya: tikungan, tanjakan dan turunan dengan derajat ketajaman bervariasi hingga tingkat ekstrim, lintasan melengkung yang kadang tergenang air dan dorongan angin samping saat tiba di celah-celah bukit.
2. Ukuran tinggi dan besar kendaraan tidak mempengaruhi cara kita mengemudi;
MITOS! Faktanya:
Semakin tinggi bentuk kendaraan maka semakin tidak stabil saat kecepatan tinggi. Semakin besar bentuk kendaraan akan mempengaruhi momentum inersia kendaraan tersebut, sehingga jarak pengereman pun semakin panjang! Haluan/ Radius putarnya pun semakin besar. Berat kendaraan juga mempengaruhi gaya melebar/ menyamping saat menikung.

3. Jarak pengereman tidak dipengaruhi bentuk dan berat kendaraan tapi ditentukan sistem pengereman kendaraan itu sendiri;
MITOS! Faktanya:
Jarak pengereman ditentukan beberapa faktor, yaitu: kondisi fisik dan perilaku pengemudi, kondisi, bobot dan kecepatan kendaraan, kondisi lintasan dan cuaca.
4. Mayoritas penyebab ban pecah di jalan tol akibat tekanan angin berlebih (over pressure)
MITOS! Faktanya:
Over pressure tidak membuat ban mudah pecah namun mempengaruhi kemampuan traksi ban terhadap permukaan jalan. Pressure yang kurang dari rekomendasi pabrik juga dapat membuat bahan pada side wall/ dinding ban mengalami keletihan/ fatigue berat akibat terlalu intensnya elasitas ban menerima beban.

5. Mengemudi pada lintasan menurun dengan kecepatan tinggi tidak berbeda dengan permukaan/ lintasan datar
MITOS! Faktanya:
Kecepatan tinggi saat lintasan menurun beresiko tinggi kecelakaan! Terjadi perubahan inti gravitasi dan distribusi bobot, handling kendaraan menjadi sangat sensitif. Saat kendaraan bergerak tidak sesuai keinginan pengemudi, respons terlalu spontan tanpa sempat berpikir menggunakan logika. Inilah awal petaka!
6. Karena lancar dan tidak padat, resiko kecelakaan di jalan tol lebih rendah
MITOS! Faktanya:
Resiko kecelakaan justru lebih massif dan dahsyat! Pengemudi cenderung mengebut dengan kecepatan tinggi, sehingga momentum yang dihasilkan jauh lebih besar dan sulit dikendalikan.


7. Dibandingkan jalan biasa, mengemudi di jalan tol tidak perlu konsentrasi tinggi
MITOS! Faktanya:
Secara umum, jalan tol itu lebar, lancar, cepat dan monoton dengan resiko kecelakaan tinggi sehingga justru memerlukan konsentrasi lebih tinggi. Kenapa? Karena situasi tersebut membuat fisik cepat letih, kewaspadaan menurun dan adrenalin tinggi untuk memacu kendaraan semakin cepat dan cepat.
8. Kecepatan kendaraan tidak mempengaruhi kestabilan kendaraan
MITOS! Faktanya:
Setiap pergerakan kendaraan akan menimbulkan momentum dan gaya sentrifugal! Semakin cepat maka semakin besar momentum dan gaya sentrifugalnya, sehingga mengurangi kestabilan kendaraan dan menjadi liar (selip, understeer, oversteer, dll)


9. Saat ada masalah, tindakan pertama adalah pengereman
MITOS! Faktanya:
Menghadapi masalah (selip, pecah ban, menghindari kendaraan lain) harus diawali proses analisa logika diikuti keputusan dan tindakan yang cepat dan tepat. Pengereman bukan selalu solusi, bila dilakukan di saat  dan tempat yang keliru akan menimbulkan masalah baru.
10. Tidak ada perbedaan mengemudi baik dengan kecepatan tinggi maupun rendah di lintasan menikung
MITOS! Faktanya:
Prinsipnya, ketika kendaraan melaju dengan kencang, kestabilannya berkurang, cenderung sensitif, sulit dikendalikan. Kurangi kecepatan sejak lintasan lurus/ sebelum mengubah arah kemudi, buat lintasan menikung selebar mungkin (tight in tight out), jangan melambat saat di tikungan dan pertahankan kecepatannya.


11. Bila letih maka kunyah permen, merokok, minum kopi, minuman berenergi atau suplemen, mengobrol dengan penumpang dan atau membuka kaca agar terkena angin
MITOS! Faktanya:
Keletihan berat (Automatic Behavior Syndrom) diakibatkan antaranya oleh akumulasi kurang tidur, bekerja berlebihan dan sakit. Pada kondisi ini, kemampuan interpretasi akan menurun, logika memburuk dan kontrol tubuh berkurang. Cara-cara tersebut diatas takkan membantu banyak. Apalagi bila minum kopi dan minuman berenergi karena justru akan membuat stamina semakin melorot dan mendorong sering buang air kecil. Berhentilah! Rehat, tidur beberapa saat akan membantu mengembalikan kebugaran. Tapi, rehat yang terbaik adalah tidur pulas.
12. Perjalanan malam lebih aman karena sepi dan lampu mobil terang 
MITOS! Faktanya

Sesuai jam biologis tubuh manusia/ Circadian Rhythm, malam diciptakan untuk rehat dan tidur bagi manusia. Seterang-terangnya lampu penerangan jalan raya (PJR) dan lampu kendaraan, tetap lebih terang matahari. Lagipula, kondisi dan situasi yang sepi memicu pemakai kendaraan terlena dan tidak waspada.


13. Mengemudi dengan kecepatan rendah jauh lebih aman daripada kecepatan tinggi
MITOS! Faktanya:
Bahaya! Kecepatan kendaraan justru harus disesuaikan dengan kondisi jalan di depan kita, perbedaan kecepatan yang cukup signifikan tidak disarankan! Jika terlalu pelan, akan membahayakan diri sendiri dan pemakai jalan lain yang berkecepatan tinggi. Bila terlalu tinggi, kendaraan akan sulit dikendalikan.

Nah, itulah 13 mitos yang selama ini dipercaya sebagai fakta oleh kita semua. Padahal kenyataannya sangat jauh dari kebenaran. Mudah-mudahan dengan adanya artikel ini dapat mengurangi tingkat kecelakaan di jalan tol dan membuat kita semua semakin waspada. Safety First!






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...