Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2011

2030, Jakarta Tenggelam

Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) memprediksi DKI Jakarta akan tenggelam pada 2030 nanti, atau sekitar 19 tahun dari sekarang. Ini sangat mungkin menjadi nyata bila amblasnya hampir 50% wilayah ibukota tidak diantisipasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ITB, laju penurunan tanah di Jakarta meningkat drastis dari 0,8cm per tahun kurun waktu 1982-1992 menjadi 18-26cm per tahun pada 2008, terutama di Jakarta Utara. Sayangnya, dii sinilah saya bersama keluarga tinggal. Tepatnya di Rawa Badak Selatan, Koja.


Kondisi alam ibukota telah mencapai titik kronis, lantaran minimnya daerah resapan. Menurut WALHI, tiap tahun Jakarta defisit air tanah sebanyak 66,6 juta meter kubik. Ini diperparah dengan turunnya sebanyak 2 milyah meter kubik air hujan per tahun. Dan, yang terserap hanya 36% saja, sisanya terbuang ke selokan dan sungai. Inilah yang menyebabkan banjir tak pernah teratasi. Pernah timbul tren lubang biopori, tapi kelatahan itu tak berlangsung laman.


Beberapa wilayah yang menurut WALHI terancam ambrol adalah jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Pademangan, Ancol, Kampung Bandan, Lodan dan Pasar Ikan Penjaringan di Jakarta Utara. Kemudian Pangeran Jayakarta, Sawah Besar dan Sudirman-Thamrin di Jakarta Pusat. Lalu Kawasan Industrial Pulogadung dan Jalan Raya Bogor di Jakarta Timur. Dan, Jalan Daan Mogot, Cengkareng dan Kamal Muara di Jakarta Barat. Sedangkan untuk Jakarta Selatan masih aman.


Hendaknya kita generasi muda ikut berpartisipasi melakukan apa yang kita bisa, seperti membuang sampah pada tempatnya, menampung air hujan untuk dipergunakan kembali dan memaksimalkan sisa tanah di depan atau belakang rumah kita untuk menanam pepohonan. Bila kita tidak beraksi dari sekarang, maka tinggal tunggu saatnya tanah yang kita pijak amblas dan Jakarta pun tenggelam. Hiks...

Senin, 03 Oktober 2011

Cindy, Doktor Wanita Indonesia Termuda

Wow! Perempuan muda Indonesia ini berhasil menjadi doktor pada usia 26 tahun. Cindy Priadi namanya, ia berhasil menamatkan studi doktoralnya di Unviersitas Paris-Sud, Perancis berkat beasiswa dari Pusat Kebudayaan Perancis. Lulusan ITB kelahiran Bandung, 30 Januari 1984 ini awalnya ingin melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri. Ia mengambil program studi ilmu lingkungan dengan tesis berjudul “Caracterisation des Phases Porteuses: Metaux Particulaires en Seine” dan lulus pada 2007. Isinya tentang penelitian logam berat yang terkandung dalam Sungai Seine, Perancis.

Saat menyelesaikan tesisnya tersebut, pemerintah Perancis dan sebuah lembaga penelitian milik perusahaan air minum lokal tertarik membiayai kelanjutan penelitiannya di jenjang S3. Saat mengambil S3, ia mengambil program studi Geokimia Lingkungan di universitas yang sama. Seluruh biaya penelitian dan biaya hidup ditanggung sepenuhnya selama 3 tahun. Mereka tertarik karena ingin mengetahui kadar air sungai tersebut dan untuk keperluan membuat instalasi dan pengelolaan air sungai dalam jangka panjang.

Cindy kini menjadi dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) program studi Teknik Lingkungan. Di sela-sela kesibukannya ia masih menyempatkan diri untuk mengambil tes balet. Menurutnya hidup harus dinikmati agar dapat meraih apa yang diinginkannya. Yang terpenting adalah kemauan dan tekad yang bulat. Target ke depannya adalah dia ingin meraih gelar profesor. Ia juga berharap dapat memberikan banyak gagasan terkait lingkungan hidup kepada masyarakat Indonesia sehingga hidup menjadi manusia yang berguna.

Satu lagi, generasi muda Indonesia dengan prestasi cemerlang! Patut kiranya dijadikan panutan dan teladan agar kita semua selalu bersemangat dalam meraih cita-cita. Setuju?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...