Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label kalimantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kalimantan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Warga Kalsel Cinta Jamu

Minum. Tahukah anda bahwa masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah peminum jamu terbesar nasional, mencapai 80,71%. Prosentase ini jauh lebih besar dibandingkan rata-rata peminum jamu nasional yang hanya 59,12% per tahun. Ini menandakan masyarakat Kalsel lebih memilih pengobatan alami dan herbal, yang memang bahan dasarnya cukup banyak tersedia di hutan Borneo. Pilihan jamu yang disukai adalah: beras kencur, pace dan temulawak. Melihat besarnya animo masyarkat terhadap jamu dan obat-obatan herbal, tak menutup kemungkinan rumah sakit di Kalsel direkomendasikan memberikan resep dan pengobatan herbal seperti di Tiongkok sana.


Memang, alam Kalsel kaya akan berbagai jenis tumbuhan yang cukup potensial untuk diolah menjadi bahan baku jamu dan obat-obatan herbal. Salahs atu yang cukup terkenal hingga ke luar negeri adalah pasak bumi. Di Malaysia dikenal dengan nama Tongkat Ali, dan jamu atau berbagai jenis minuman yang mengandung tongkat Ali bahan bakunya dipasok dari Kalimantan. Sungguh disayangkan, sampai saat ini Kalsel atau propinsi Kalimantan lainnya belum punya teknologi untuk mengekstrak pasak bumi dan mematenkannya. Semua masih diolah secara tradisional dan manual, kita hanya mengekspor dan menjual bahan mentah.

Kamis, 17 November 2011

Turnamen Sumpit Internasional di Singkawang

Main. Akhir pekan ini, 18-20 Nopember 2011, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) Kalimantan Barat menyelenggarakan Turnamen Sumpit Internasional  di Singkawang. Sampai kemarin sudah mendaftar ratusan peserta, tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Ke depannya, panitia juga akan mengundang peserta dari Afrika maupun Amerika Selatan yang diketahui juga banyak menggunakan sumpit sebagai alat berburu.

Sumpit di sini bukan alat makan tapi senjata tradisional suku-suku asli di Kalimantan. Sumpit sangat efektif bila digunakan untuk berburu karena jarak tembaknya mencapai 200 meter. Dengan lomba ini diharapkan generasi muda Kalimantan mengetahui hal ihwal sumpit dan semakin mencintai tradisi turun temurunnya. Selain itu, ini juga merupakan upaya terpadu dalam mempromosikan pariwisata kota-kota di Kalimantan Barat. Sukses selalu!

Selasa, 11 Oktober 2011

Pudarnya Kecantikan Pulau Derawan

Main. Saat ini Pulau Derawan ibarat ikon baru wisata bahari Indonesia yang terletak di Berau, Kalimantan Timur. Ketenarannya sebagai destinasi para wisatawan tidak hanya di Nusantara tapi juga di Mancanegara. Kurang lengkap rasanya bila sedang di Borneo tapi tidak menginjakkan kaki disana. Pantainya yang cantik dengan hamparan pasir putih yang bersih benar-benar mempesona. Walaupun saya sendiri, Achmad Annama (Anam) meskipun sudah hampir 2 tahun tinggal di Balikpapan tapi belum pernah ke sana, he7x... 


Namun kini, masyarakat mulai waswas dan kuatir para turis akan kecewa melihat kondisi terkini Derawan. Kecantikannya perlahan mulai memudar! Pasirnya mulai kusam, sampah-sampah mulai tampak di sana-sini dan yang paling parah adalah bermunculannya berbagai bangunan modern yang berdiri angkuh mengambil sebagian besar area pantai dan menutupi keindahannya. Sungguh tak sedap dipandang mata, karena bila turis menginginkan bangunan-bangunan modern mereka takkan berkunjung ke Derawan. Mereka dapat menikmatinya di Balikpapan atau bahkan Makassar dan Jakarta. Wisatawan justru ingin menikmati keindahan Derawan yang alami dan unik. 


Para operator dan pengusaha pariwisata tidak menyadari dan memahami apa sebenarnya yang diinginkan dan diperlukan pengunjung. Bukan hotel bertingkat, klub mewah atau berbagai fasilitas mutakhir lainnya. Yang mereka butuhkan justru keasrian dan keaslian Derawan. Nilai jualnya justru terletak pada keanggunan pantai pasir putihnya, keindahan terumbu-terumbu karangnya dan keaneka ragaman biota lautnya. Kalau pembangunan fisik yang diutamakan, maka Derawan tak ubahnya pantai biasa saja! Justru berat bersaing dengan Bunaken, Benoa, Mentawai dan Raja Ampat. Orang takkan ada lagi yang mau menyaksikan kecantikannya yang palsu.

Senin, 29 Agustus 2011

Makna Tato dalam Masyarakat Suku Dayak

Main. Memiliki tubuh yang dirajah dan dihiasi beragam tato indah merupakan hal biasa bagi suku Dayak. Apalagi mereka yang sudah dewasa dan berusia lanjut. Bagi mereka makna tato berbeda dengan tato orang kota yang cenderung berkonotasi negatif karena identik dengan premanisme. Tato atau disebut juga parung bagi orang Dayak adalah mengandung nilai-nilai kearifan lokal, tradisi turun temurun, reliji hingga status sosial dalam masyarakat. Karenanya, tato tidak bisa dibuat secara sembarangan dan oleh sembarang orang. Ada aturan-aturannya.

Secara kepercayaan, orang Dayak menganggap tato sebagai obor penerang dalam perjalanan menuju alam keabadian kelak pasca kematian. Karenanya, semakin banyak tato berarti semakin terang benderang dan lapang jalan yang akan ditempuh. Namun demikian, lagi-lagi tato tidak diperkenankan dibuat tanpa mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

Tiap sub suku Dayak punya aturan berbeda terkait tato. Ada pula sub suku dayak yang tidak memiliki tradisi tato ini. Masyarakat Dayak yang tinggal di perbatasan Indonesia dengan Sabah dan Serawak-Malaysia biasanya membaut tato ti tangan dan jari-jarinya. Ini bermakna orang tersebut mampu menolong orang lain, sebagai pemandu hutan, ahli pengobatan atau meramu makanan. Semakin banyak tatonya maka semakin tinggi keahliannya.

Bagi orang-orang Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, semakin banyak tato menandakan orang tersebut sudah sering mengembara dan merantau. Karena tiap kampung memiliki motif tato berbeda, sehingga tiap dia mengembara dari kampung ke kampung maka akan diberikan tato khas. Yang perlu anda tahu, jarak kampung di Kalimantan berbeda dengan kota-kota di Jawa, bisa ratusan kilometer jaraknya. Ini harus ditempuh dengan perahu lewat sungai atau berjalan kaki.

Motif yang terkenal bagi Dayak Kenyah adalah burung Enggang. Begitu juga dengan Dayak Iban, yang menjadikan burung atau hewan yang bisa terbang lainnya sebagai pilihan motif tato untuk para bangsawannya. Bagi sub suku lainnya, pemberian tato terkait tradisi menganyau atau memenggal kepala musuh dalam peperangan. Tapi tradisi ngayau ini sudah tidak ada lagi karena dianggap tak berprikemanusiaan.

Jika bagi pria, tato terkait penghargaan dan penghormatan, bagi wanita lebih kepada motif relijius. Biasanya untuk melindungi diri dari roh-roh jahat. Baik tato pada pria maupun wanita, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang. Seiring perkembangan jaman kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.

Minggu, 09 Januari 2011

Selera Nusantara di Senayan

Makan. Bila anda sedang berkunjung ke gedung DPR/ MPR, atau anda bekerja di dalam gedung wakil rakyat ini, atau sekedar main di sekitar Senayan, maka sempatkan untuk mampir ke kedai-kedai yang terletak persis di pinggir jalan seberang pintu masuk samping gedung DPR/ MPR. Maka, anda akan melihat kalau Selera Nusantara apik disajikan disini, mulai makanan ala Sumatera (Batak), Kalimantan (Banjar) hingga Sulawesi (Manado). Rasanya sesuai dengan lidah rakyat, enak dan harganya pun pas di kantong rakyat, murah. He7x... Simak ulasan saya Achmad Annama (Anam) dibawah ini ya, semua kedai terletak di jalan Gelanggang Olahraga (Gelora) Senayan.

Soto Banjar Hj. Ida
Letak kedai ini sangat dekat dengan pertigaan jalan. Menu andalannya sudah pasti Soto Banjar bening yang disajikan dalam mangkok besar berisi perkedel, soun, potongan telur dan suwiran ayam. Dinikmati bersama ketupat atau nasi putih. Selain itu, anda pun bisa menyantap penganan khas banjar lainnya, yaitu Kue Bingka berbentuk bunga dengan 6 kelopak berwarna kuning kecoklatan. Tiap loyang besarnya diganjar Rp. 16.000,-. Namun, kegurihan dan kelezatan rasanya sebanding.

Warung Masakan Manado (Masman)
Saking larisnya, warung ini hanya buka dari pagi sampai siang saja. Menu andalannya adalah makanan khas Manado yang sudah sangat terkenal; Sambal Rica-rica dan Ayam tinutuan. Ada juga  masakan lainnya, seperti Ayam Tuturuga, Ayam Bulu Brenebon, Paniki, Sait dan Sayur Bunga Pepaya. Warung ini juga menyediakan kue-kue khas Sulawesi Utara, seperti Cucur Manado, Apang Cae, Popacho dan Panada. Sebagai penutup santap siang anda disini, cobalah memesan Saguren, minuman nikmat yang terbuat dari air tuak aren seharga Rp. 7.000,- per gelas.

Lapo Ni Tondongta
Kedai ini khusus buat mereka yang menyukai masakan khas Batak dan diperkenankan makan dengan lauk yang haram bagi umat Islam, yaitu Anjing dan Babi. Menurut mereka, menu andalannya yang paling laris adalah Babi Muda (Lomok-lomok). Tersedia juga Babi Panggang, Nami Ura, Ansak, Lele Tumbo, Susu Kerbau, Sayur Singkong dan beberapa camilan. Lapo ini  sudah memiliki cabang di berbagai tempat. Keunikannya, Lapo ini tutup tiap hari Senin.

Jadi, sudah putuskan akan makan dimana saat anda di seputar Gelora senayan?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...