Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Quiche, Pie Gurih Amerika yang Kini Sudah Halal

Makan. Quiche, penganan sejenis pie ini banyak disukai karena rasanya gurih, renyah dan lezat. Kini ada produk quiche kemasan halal yang bisa dinikmati bukan hanya oleh umat Islam Amerika tetapi juga muslim di seluruh dunia. Love and Quiches Dessert adalah salah satu produsen quiche halal asal Amerika. Perusahaan tersebut berhasil memperoleh pengesahan halal dari lembaga sertifikasi halal lokal di Amerika, yaitu IFANCA (The Islamic Food and Council of Amerika) pada bulan Juni 2011 lalu. Bahkan produk-produk Love and Quiches Dessert sudah terdaftar dalam list lembaga halal non profit tersebut. 


Quiche merupakan sejenis pastry pie asal Inggris yang juga sangat populer di Perancis. Keunikannya karena pie ini memiliki berbagai macam isi, seperti cream custard gurih yang ditambahkan sayuran, keju, daging, ham, bacon, dll. Bisa disimpulkan bahwa quiche memiliki titik kritis kehalalan yang perlu diwaspadai bagi kaum muslim. Selain itu, bahan-bahan mulai dari cream custard juga kerap menjadi persoalan. Di Amerika, Love and Quiches Desserts merupakan perusahaan quiche yang berangkat dari usaha skala dapur rumahan. Hingga kini produk tersebut sudah bertahan lebih dari 40 tahun lamanya. Bahkan Susan Axelrod, sang pemilik pada tahun 2010 pernah memperoleh penghargaan Nassau County Woman's History


Dari awal Susan Axelrod sudah mengunakan bahan-bahan alami seperti butter asli atau kacang-kacangan Georgia. Kedepannya ia pun membuat quiche beku dan brownies beku dalam kemasan praktis. Sehingga konsumen tinggal menghangatkan dengan microwave atau oven di rumah. Tak heran jika produk pie kemasan Susan banyak digemari tidak hanya di Amerika tetapi juga di negara-negara lainnya di seluruh dunia. Banyaknya permintaan dari pasar Timur Tengah dan Asia membuat Susan akhirnya mendaftarkan Love and Quiches Dessert untuk memperoleh sertifikasi halal. Dengan menyandang logo halal ia berharap pie buatannya kini dapat lebih diterima di seluruh dunia. Terutama dapat dikonsumsi tanpa rasa was-was oleh kaum muslim.

Selasa, 20 Desember 2011

Sekelumit tentang Masjid Harrow di London Utara

Main. Juni 2009 lalu Dewan Kota Harrow setelah disetujui pembangunannya, maka Harrow Central Mosque pun mulai dibangun di atas lahan seluas 5.745 meter persegi di Road Stadion termasuk menara setinggi 40 meter, tempat latihan, tempat ibadah, penitipan bayi, perpustakaan, kafe, ruang serbaguna, ruang IT, klinik kesehatan dan tempat aktivitas lainnya. Bila telah selesai, tahun depan Masjid Harrow siap menjadi tempat ibadah umat Islam dari seluruh penjuru London Utara. 


Masjid lama yang sebelumnya telah ada terletak bersebelahan dengan bangunan baru. Namun terlalu kecil untuk melayani seluruh komunitas muslim di Harrow, sehingga dewan kota menyetujui proyek masjid baru ini dengan tujuan menjadi salah satu pusat budaya Islam di Inggris. Selain itu juga arsitektur masjid 5 lantai ini menyesuaikan dengan gedung lain sehingga menjadi landmark unik dan indah perpaduan seni Islami dan gaya Eropa. Ide dan pembangunannya merupakan inisiatif komunitas muslim Sunni Srilanka di wealdstone. 


Sesuai sensus 2001, Harrow adalah rumah bagi 15.000 penganut Islam. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, suku, ras dan pekerjaan. Sebagian besar berasal dari Asia Selatan, seperti India, Pakistan dan Bangladesh. Selain itu juga ada migran berasal dari Afrika Utara, Arab dan Asia Tenggara yang kini sudah menetap dan beraktivitas seperti warga lainnya. Selain Harrow Central Mosque, masjid di London lainnya adalah Hujjat Islamic Centre, Mehfil-Ali, di hall sekolah St Andrew's, serta Masjid Al-Noor.

Jumat, 21 Oktober 2011

Pesona Istana Maimun yang Tak Pernah Pudar

Main. Jika anda sedang berkunjung ke Medan, sempatkan untuk mampir ke ​Istana Maimun yang terletak di Jalan mahmud Al-Rasyid No.66, Kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun, Sumatera Utara. Ikon wisata masyhur kota Medan ini meskipun sudah berumur tua tapi pesonanya tak pernah pudar karena memiliki desain interior yang unik dengan memadukan unsur-unsur warisan 5 jenis kebudayaan besar yaitu Melayu, Islam, Spanyol, India dan Italia. Istana ini didesain arsitek Italia dan dibangun Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888. Luasnya mencapai 2.772 m2 dan terdiri dari 30 ruangan yang berisi beberapa peninggalan Kesultanan Deli, diantaranya, singgasana sultan, sepasang kursi kebesaran sultan hingga baju kebesaran sultan.


Saat ini bangunan istana sudah berusia 100 tahun dan belum banyak direnovasi. Hal ini terlihat dari bentuk dan desain yang tidak mengalami perubahan sama sekali kecuali pengecatan dinding bangunan. Perawatan istana ini sepenuhnya adalah tanggung jawab keluarga kesultanan dengan sedikit subsidi dari pemerintah. Meskipun istana ini milik pribadi, namun istana terbuka bagi masyarakat umum. Semua kalangan diperbolehkan masuk ke istana ini dengan membeli tiket masuk yang cukup murah, 8 ribu rupiah mulai pukul 08.00-17.00 WIB. Tidak hanya itu, di dalam ruangan juga terdapat beberapa pakaian yang dapat disewa penunjung dengan tarif 20 ribu rupiah. Pengunjung istana tidak hanya berasal dari Kota Medan, tapi juga dari luar kota bahkan luar negeri. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, pelajar, anak-anak, orangtua hingga peneliti.

Jumat, 30 September 2011

Sejarah Singkat Bedug di Nusantara

Main. Hampir seluruh masjid di Indonesia memiliki bedug, biasanya dipergunakan sesaat sebelum adzan untuk mengingatkan waktu shalat dan mengajak umat Islam shalat berjamaah di Masjid. Ada yang berpendapat, bedug terkait erat dengan budaya Tiongkok yang dibawa masuk ke masjid-masjid nusantara oleh Laksamana Cheng Ho yang kebetulan juga muslim. Namun, bila ditilik dari sisi sejarah, nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, semacam genderang untuk ritual minta hujan yang terbuat dari perunggu atau logam lainnya.


Kata bedug sendiri sudah disinggung dalam kidung Malat, karya sastra berisi cerita-cerita panji yang ditulis pada zaman Majapahit di abad 14-16 masehi. Disana disebutkan 2 macam bedug, yaitu bedug besar yang diberi nama tegteg dan bedug biasa. Pada masa itu bedug berfungsi sebagai alat komunikasi, penanda waktu dan pemberi peringatan. Menurut Cornelis de Houtman dalam D'Eerste Boek, penggunaan bedug sudah meluas pada abad ke-16. Ini dia saksikan sendiri saat ekspedisi ke Banten.


Bedug dapat disebut sebagai perwujudan akulturasi budaya lokal dengan Tiongkok, India dan Timur Tengah. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengukuhkan penggunaan bedug dan kentongan sebagai bagian syiar Islam yang selama ini telah dirintis oleh para Wali Songo. Meskipun saat ini penggunaan bedug sudah mulai digerus gerakan modernisme Islam, namun di pelosok desa-desa muslim di seluruh nusantara sisa-sisanya masih banyak kita lihat. Sudah sepantasnya bedug sebagai warisan budaya kita lestarikan dan jaga bersama-sama.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...