Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Pesona Istana Maimun yang Tak Pernah Pudar

Main. Jika anda sedang berkunjung ke Medan, sempatkan untuk mampir ke ​Istana Maimun yang terletak di Jalan mahmud Al-Rasyid No.66, Kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun, Sumatera Utara. Ikon wisata masyhur kota Medan ini meskipun sudah berumur tua tapi pesonanya tak pernah pudar karena memiliki desain interior yang unik dengan memadukan unsur-unsur warisan 5 jenis kebudayaan besar yaitu Melayu, Islam, Spanyol, India dan Italia. Istana ini didesain arsitek Italia dan dibangun Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888. Luasnya mencapai 2.772 m2 dan terdiri dari 30 ruangan yang berisi beberapa peninggalan Kesultanan Deli, diantaranya, singgasana sultan, sepasang kursi kebesaran sultan hingga baju kebesaran sultan.


Saat ini bangunan istana sudah berusia 100 tahun dan belum banyak direnovasi. Hal ini terlihat dari bentuk dan desain yang tidak mengalami perubahan sama sekali kecuali pengecatan dinding bangunan. Perawatan istana ini sepenuhnya adalah tanggung jawab keluarga kesultanan dengan sedikit subsidi dari pemerintah. Meskipun istana ini milik pribadi, namun istana terbuka bagi masyarakat umum. Semua kalangan diperbolehkan masuk ke istana ini dengan membeli tiket masuk yang cukup murah, 8 ribu rupiah mulai pukul 08.00-17.00 WIB. Tidak hanya itu, di dalam ruangan juga terdapat beberapa pakaian yang dapat disewa penunjung dengan tarif 20 ribu rupiah. Pengunjung istana tidak hanya berasal dari Kota Medan, tapi juga dari luar kota bahkan luar negeri. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, pelajar, anak-anak, orangtua hingga peneliti.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Candi-candi Padang Lawas Terancam Pemburu Harta Karun

Main. Sudah jatuh tertimpa tangga pula! Begitulah kira-kira nasib candi-candi di Padang Lawas, Sumatera Utara. Selain terbengkalai karena tidak adanya perhatian serius dari pemerintah, kini situs-situs bersejarah tersebut terancam perusakan oleh para pemburu harta karun. Miris! Fakta ini diungkap oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan. 


Salah satu bukti nyata menimpa Candi Sangkilon yang rusak konstruksi maupun pondasi sekelilingnya karena penggalian liar. Hal ini sudah dilaporkan oleh para petugas yang berwenang namun tidak ada reaksi apapun baik dari pemerintah daerah maupun dari aparat kepolisian. Pemerintah pusat sendiri seakan tak peduli dengan cagar budaya ini, karena tak ada rencana apapun untuk melakukan restorasi dan pemugaran secepatnya. Retakan-retakan parah yang sekarang terdapat pada dinding candi diduga akan mempercepat kerobohannya. 


Sebagai bangsa yang berbudi luhur dan menghormati warisan nenek moyang, harusnya masyarakat sekitar bekerja sama dengan Badan  Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumut-Aceh dalam menjaga situs bersejarah ini. Karena, bukan tak mungkin suatu saat dapat menjadi destinasi dan daya tarik wisata sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat. Semoga!

Jumat, 07 Agustus 2009

Durian Medan? Maknyuss!!!

Makan. Juli 2009 lalu, saya Achmad Annama (Anam) mendapat kesempatan ke luar kota lagi, tepatnya Medan, Sumatera Utara. Tugas penelitian dari Pusat Penelitian Kesehatan (PPK) UI. Walau banyak pekerjaan, namun saat sore hari saya menyempatkan diri untuk bersantai berkeliling kota bersama adik-adik enumerator. Salah satu yang dicari adalah Durian Medan! Ya, rasanya tidak ke Medan kalau tidak makan Duriannya. Kabarnya yang terkenal adalah Durian Ucok, tapi via sms rekan-rekan tidak merekomendasikan dengan berbagai alasan. Akhirnya kami pilih Durian Juntak Margana.

Durian Juntak Margana terletak di Jl. Adam Malik tidak jauh dari bundaran perempatan dan restoran KFC. Tempatnya di pinggir jalan, menempati sepanjang trotoar. Disana disediakan meja dan kursi panjang yang jumlahnya cukup memadai. Air mineral pun diberi cuma-cuma. Setelah memilih spot yang strategis. Tawar-menawar pun dimulai. Harga yang ditawarkan antara Rp. 15.000,- hingga Rp. 25.000,- per buah. Tapi akhirnya kami bisa mendapatkan 7 buah durian masak untuk selembar rupiah merah senilai Rp. 100.000,-. Saat diminta memilih "Manis-manis atau manis-pahit?", tentunya kami memilih yang pertama.

Butir demi butir durian tak terasa masuk ke tenggorokan. Nikmatnya, Maknyuss!!! Manisnya pas dan bikin sakaw (ketagihan), ha7x... Oh ya, disinipun kita bisa membeli paket kontainer untuk dibawa pulang ke kota masing-masing. Dijamin takkan berbau di pesawat, karena kontainer akan diisolasi kedap dan diberi bubuk kopi. Tandas sudah ke tujuh buah durian. Dan sebelum kembali beraktivitas, tak lupa minum air dari sela-sela buah durian. Mitos? Ya boleh percaya boleh tidak. Yang jelas, rekan yang tidak melakukan ritual itu besoknya mulas! Oke, met makan Durian Medan ya... Kalau mampir ke Sumatera Utara.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...